Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Nekat Main Air Berujung Petaka, Petugas Keamanan Pantai Payangan Jember Curhat Serba Salah Hadapi Ego Wisatawan!

Maulana RJ • Rabu, 10 Juni 2026 | 09:04 WIB
“Pengunjung itu kan macam-macam, datang dari berbagai daerah. Biasanya pengunjung atau wisatawan yang dari jauh luar kota, kadang agak dagblek.” ANSORI FERI, Relawan SAR dan petugas keamanan di Pantai Watu Ulo. (YULIO FA/RADAR JEMBER)
“Pengunjung itu kan macam-macam, datang dari berbagai daerah. Biasanya pengunjung atau wisatawan yang dari jauh luar kota, kadang agak dagblek.” ANSORI FERI, Relawan SAR dan petugas keamanan di Pantai Watu Ulo. (YULIO FA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Tragedi memilukan yang dua pekan kemarin menimpa pengunjung di Pantai Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, seolah kembali menegaskan pentingnya keselamatan saat berwisata di pantai.

Ironisnya, ancaman terbesar justru sering kali datang dari kebebalan para wisatawan itu sendiri.

​Hal ini diungkapkan oleh Ansori Feri, salah seorang relawan SAR dan petugas keamanan di Pantai Watu Ulo. Ia menceritakan pengalaman yang kadang dihadapi relawan dan petugas di lapangan saat mencoba menyelamatkan nyawa pengunjung.

Baca Juga: Titip Pesan Khusus untuk Masa Depan Jember, Bupati Gus Fawait Bakar Semangat Mahasiswa di Yogyakarta

"Pengunjung itu kan macam-macam, datang dari berbagai daerah. Biasanya pengunjung atau wisatawan yang dari jauh luar kota, kadang agak dagblek (keras kepala, Red). Ketika diingatkan agar tidak mandi di pantai, mereka masih tetap nekat," katanya, saat ditemui beberapa pekan lalu.

​Anshori meluruskan persepsi keliru masyarakat mengenai kecelakaan laut (laka laut). Menurutnya, mayoritas korban yang tergulung ombak ganas pantai selatan sebenarnya tidak berniat untuk berenang atau mandi.

​"Mereka pengunjung itu memang (awalnya) tidak mandi, cuma kecek-kecek (main air di tepi pantai), mainan air enggak sampai mandi. Tapi kejadian laka laut itu rata-rata para pengunjung seperti ini. Hanya main kecek air, tapi begitu ombak besar datang dan menyeret mereka, ya sudah, fatal akibatnya," katanya.

Menurut dia, karakteristik pantai selatan Jember termasuk Pantai Watu Ulo, Pantai Payangan, dan Pantai Papuma, memang terkenal memiliki ombak besar dan arus bawah laut yang sangat kuat. Satu seretan kecil di mata kaki bisa menjadi awal dari petaka yang merenggut nyawa.

​Menjaga keselamatan pengunjung di sepanjang garis pantai bukanlah perkara mudah. Anshori mengaku para relawan SAR sering kali terjebak dalam dilema yang serba salah saat menghadapi wisatawan yang bebal. ​

"Di situ kadang teman-teman relawan ini serba salah. Diingatkan terlalu keras, kami takut dianggap kurang ramah terhadap pengunjung. Tapi kalau diingatkan dengan baik-baik dan halus, malah kurang begitu diindahkan, dianggap angin lalu," keluh Anshori.

Baca Juga: Bikin Haru! Kisah Jemaah Haji Jember Saksikan Keajaiban Kecil Antar-Bangsa yang Bikin Air Mata Menetes di Mina!

​Lonjakan pengunjung ini biasanya mencapai puncaknya pada momen-momen libur hari besar, seperti Libur Hari Raya Idulfitri, Tahun Baru, dan musim liburan sekolah.

Tak jarang, wisatawan juga mendirikan tenda dan bermalam di tepi pantai bersama rombongannya. Aktivitas malam hari di dekat bibir pantai selatan tentu melipatgandakan risiko bahaya.

​Meskipun kerap diabaikan dan harus menelan kekecewaan akibat ego wisatawan, Anshori menegaskan bahwa para relawan SAR tidak akan pernah mundur. Suara mereka akan terus menggema melalui pengeras suara di sepanjang pantai. ​

"Karena ini pantai selatan dan ombaknya sangat besar, kami tidak akan berhenti mengingatkan pengunjung. Bukan untuk apa-apa, ini semua semata-mata demi keamanan dan keselamatan mereka sendiri agar bisa pulang ke rumah dengan selamat," pungkas dia. (mau/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#jember batik #Watu Ulo #Pantai Payangan #Relawan SAR