Radar Jember - Di tengah bonus demografi yang perlahan bergeser menuju penuaan penduduk, Jember menghadapi tantangan baru. Ribuan lansia membutuhkan ruang untuk tetap sehat, produktif, dan dihargai di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.
Menjawab tantangan itu, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember mulai menyiapkan berbagai langkah. Mulai dari pembentukan pusat studi hingga program pengabdian yang berfokus pada kelompok usia lanjut.
Wakil Rektor I UIN KHAS Jember, Prof Khusna Amal mengatakan, kampus telah mendiskusikan persoalan lansia sejak tahun lalu.
Dari berbagai forum dan kajian yang dilakukan, kampus menemukan bahwa kelompok lansia merupakan segmen sosial yang membutuhkan perhatian lebih dari berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.
Menurut dia, data menunjukkan jumlah lansia di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, persoalan yang dihadapi kelompok usia lanjut tidak bisa hanya diserahkan kepada keluarga atau pemerintah.
Kampus juga perlu mengambil bagian melalui program-program yang berorientasi pada pemberdayaan maupun pendampingan.
“Dari workshop gerontologi yang kami lakukan, kami memperoleh banyak referensi dan data bahwa persoalan lansia menjadi tanggung jawab bersama. Kampus tidak boleh hanya diam, tetapi harus ikut aktif terlibat dalam penanganan problem lansia,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, UIN KHAS berencana mendirikan pusat studi lansia. Lembaga tersebut akan menjadi wadah kajian ilmiah yang fokus meneliti berbagai isu terkait lansia, sekaligus merumuskan strategi yang bisa diterapkan untuk menjawab persoalan yang muncul di masyarakat.
Hasil kajian itu nantinya tidak hanya berhenti di ruang akademik. Kampus juga akan memasukkan isu lansia ke dalam berbagai kegiatan tri dharma perguruan tinggi.
Salah satunya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang memberi kesempatan mahasiswa mengambil tema pemberdayaan lansia di tengah masyarakat. Selain itu, topik-topik penelitian terkait lansia juga akan didorong untuk dikembangkan oleh dosen maupun mahasiswa.
“Dalam pendidikan dan pengajaran juga akan kami masukkan materi yang berkaitan dengan lansia. Jadi isu ini tidak hanya menjadi bahan diskusi, tetapi juga hadir dalam kegiatan akademik dan pengabdian,” kata Khusna.
Langkah UIN KHAS tersebut mendapat apresiasi dari aktivis perempuan sekaligus pendiri Komunitas Belajar Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek.
Menurutnya, Jember menghadapi tantangan yang tidak ringan terkait lansia. Perubahan pola keluarga dari keluarga besar menjadi keluarga inti membuat banyak lansia berada pada posisi rentan.
Tidak sedikit yang justru masih mengasuh cucu ketika anak-anak mereka bekerja. Sementara kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan sebagian besar lansia masih tergolong rendah.
Farha Ciciek menilai sudah saatnya cara pandang terhadap lansia diubah. Lansia tidak semestinya hanya diposisikan sebagai penerima bantuan sosial, melainkan kelompok yang tetap memiliki hak untuk berdaya dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
“Lansia punya modal sosial yang luar biasa. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang bisa menjadi kontribusi bagi masyarakat. Yang diperlukan adalah ruang dan kesempatan agar mereka tetap bisa berkarya sesuai kemampuannya,” ujarnya.
Ia berharap langkah yang ditempuh UIN KHAS dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk lebih siap menghadapi era aging population yang kini mulai dirasakan di Jember. “Ini sinyal positif, harapannya bisa menjadi inspirasi bagi semua kalangan,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh