Radar Jember - Di tengah hamparan perkebunan Gunung Gumitir yang membentang di perbatasan Kabupaten Jember dan Banyuwangi, lonceng pendaftaran siswa baru kembali berbunyi di SMPN 5 Silo.
Sekolah yang berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, itu setiap tahun menghadapi tantangan yang sama. Minimnya jumlah calon siswa.
Letaknya yang berada di ujung timur Kabupaten Jember membuat SMPN 5 Silo hanya ditopang oleh satu sekolah dasar negeri di sekitarnya. Sebagian anak-anak lulusan SD bahkan memilih melanjutkan pendidikan ke wilayah Kalibaru, Banyuwangi, atau mondok di luar daerah.
Baca Juga: Titip Pesan Khusus untuk Masa Depan Jember, Bupati Gus Fawait Bakar Semangat Mahasiswa di Yogyakarta
Meski demikian, harapan tetap tumbuh pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini. Pada hari pertama pendaftaran, tercatat enam calon siswa mendaftar. Jumlah itu kemudian bertambah empat orang pada hari kedua.
"Alhamdulillah hari pertama ada enam calon siswa yang mendaftar. Hari kedua bertambah empat lagi sehingga total menjadi 10 siswa," kata Kepala SMPN 5 Silo, Syaiful Mustofa.
Menurutnya, tidak sedikit orang tua yang awalnya memilih menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren setelah lulus SD. Namun, sebagian dari mereka akhirnya kembali dan mendaftarkan diri ke SMPN 5 Silo.
"Biasanya setelah lulus SD ada yang minta mondok, tetapi tidak berjalan lama. Akhirnya minta pulang dan mendaftar ke sini," ujarnya.
Syaiful menjelaskan, mayoritas siswa di sekolahnya merupakan anak-anak karyawan perkebunan. Kondisi itu membuat jumlah peserta didik sangat bergantung pada keberadaan keluarga pekerja perkebunan di wilayah tersebut.
"Di sekitar sekolah hanya ada satu SD negeri dan sebagian besar siswanya anak karyawan perkebunan," pungkasnya.
Kondisi serupa juga terjadi di SMPN 4 Tempurejo yang berada di kawasan Perkebunan Afdeling Terate, Kebun Kotta Blater, Kecamatan Tempurejo. Hingga hari kedua pelaksanaan SPMB, jumlah pendaftar masih bertahan di angka dua siswa.
Kepala SMPN 4 Tempurejo, Wibowo, mengatakan jumlah lulusan SDN Curahnongko 08 tahun ini hanya tiga siswa. "Dari tiga siswa yang lulus tahun ini, yang mendaftar ada dua siswa. Satu siswa lainnya ikut orang tuanya pindah," katanya.
Menurut Wibowo, minimnya jumlah siswa dipengaruhi oleh kondisi wilayah yang jauh dari permukiman warga. Selain itu, SDN Curahnongko 08 menjadi satu-satunya sekolah dasar di sekitar lokasi yang mayoritas siswanya merupakan anak-anak karyawan perkebunan.
"Karyawan yang sudah tidak bekerja harus keluar dari perumahan perkebunan. Ketika tidak ada anak yang masuk TK, otomatis berdampak pada jumlah siswa SD hingga SMP," jelasnya.
Sementara itu, di wilayah barat Kabupaten Jember, SMPN 2 Sumberbaru masih mampu menarik puluhan pendaftar. Hingga hari kedua SPMB, sekolah yang berada di Desa Karangbayat tersebut telah menerima 38 calon siswa.
Kepala SMPN 2 Sumberbaru, Surawi, mengatakan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah hingga masa pendaftaran berakhir. "Hingga hari kedua sudah ada 38 calon siswa yang mendaftar," ujarnya.
Menurut Surawi, sebagian lulusan SD memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta atau mondok di luar daerah sehingga memengaruhi jumlah pendaftar di sekolahnya.
Berbeda dengan sekolah-sekolah pinggiran, antusiasme pendaftar justru terlihat di SMPN 1 Ambulu. Sekolah tersebut mencatat jumlah pendaftar yang cukup tinggi sejak hari pertama pelaksanaan SPMB.
Kepala SMPN 1 Ambulu, Zaeni, mengatakan sekolahnya memiliki kuota sebanyak 374 siswa yang terbagi dalam 11 rombongan belajar (rombel). "Pendaftaran dibuka sejak hari pertama hingga pukul 16.00 dan dilanjutkan pada hari kedua hingga Rabu nanti," katanya.
Hingga saat ini, sebanyak 294 calon siswa telah mendaftar melalui jalur prestasi, afirmasi, dan mutasi. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena tahapan penerimaan masih akan dilanjutkan melalui jalur domisili.
Di SMPN 1 Balung, jumlah pendaftar pada hari pertama juga menunjukkan tren positif. Tercatat 77 calon siswa telah mendaftar, terdiri atas 32 siswa melalui jalur prestasi, 43 siswa jalur afirmasi, dan dua siswa jalur mutasi.
Kepala SMPN 1 Balung, Rokhim, mengatakan proses pendaftaran masih berlangsung hingga hari ketiga, sehingga jumlah pendaftar masih memungkinkan bertambah. Pelaksanaan SPMB tahun ini kembali menunjukkan wajah pendidikan yang berbeda di setiap wilayah Jember.
Jika sekolah-sekolah di kawasan perkebunan harus berjuang mencari siswa, maka sekolah yang berada di kawasan perkotaan dan pusat kecamatan justru menghadapi tingginya antusiasme pendaftar. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh