Radar Jember - "Api yang membakar hatimu karena hawa nafsumu, menghanguskan kasih dan sayangku..." Suara merdu Vizza menggema di Kantor Jawa Pos Radar Jember, beberapa hari lalu.
Dari penggalan lagu ‘Ternyata’ yang dinyanyikan Cici Faramida itu, pelajar SMAN 2 Jember tersebut mengisahkan perjalanannya menembus panggung nasional Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 2025.
Sebuah perjalanan yang berawal dari rumah sederhana dan kecintaan pada dangdut yang tumbuh sejak ia kecil. Tidak banyak remaja seusianya yang memilih jalan seperti yang ditempuh Vizza.
Di tengah gempuran musik modern dan tren yang silih berganti, ia justru jatuh cinta pada dangdut klasik. Lagu-lagu lawas yang bagi sebagian anak muda terdengar asing, justru menjadi teman tumbuhnya sejak kecil.
"Aku dulu sebenarnya sukanya pop, enggak bisa dangdut," ujarnya sambil tersenyum.
Namun semua itu berubah karena sosok sang nenek. "Uti penyanyi dangdut. Akhirnya aku coba belajar dangdut, ternyata enak. Dari situ aku jadi suka banget," katanya.
Kecintaan itu berawal dari rumah. Dari seorang nenek yang gemar menyanyikan lagu dangdut dan tanpa sadar menanamkan benih kecintaan musik kepada cucunya. Ketertarikan yang semula sederhana berkembang menjadi kesungguhan.
Saat teman-teman sebayanya mengikuti musik yang sedang populer, pemilik nama lengkap Savina Izza itu justru tenggelam dalam lagu-lagu dangdut klasik. "Lebih suka dangdut. Memang suka dangdut banget," ungkapnya.
Di belakang perjalanan itu ada sosok Panda, panggilannya kepada ayah yang menjadi guru musik pertamanya. Ayahnya, Dhedy Nur Hidayat bukan penyanyi melainkan pemain musik kendang.
Namun puluhan tahun bergelut sebagai musisi membuat telinganya terlatih mengenali nada yang tepat dan rasa yang pas dalam sebuah lagu.
Ayahnya tidak mengajarkan teori panjang lebar. Ia hanya mendengar, lalu memberi masukan ketika ada nada yang meleset atau penghayatan yang kurang menyentuh. "Aku enggak pernah les vokal. Otodidak. Panda yang jadi coach di rumah," kata Vizza.
Dari ayahnya pula ia belajar memahami bahwa lagu bukan sekadar soal suara, melainkan tentang rasa yang harus sampai kepada pendengar.
Sejak duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, Vizza mulai berani naik panggung. Dari satu acara ke acara lain, ia belajar menghadapi penonton, mengendalikan rasa gugup, dan menikmati setiap lagu yang dibawakannya.
Sebagian besar proses itu dijalaninya secara autodidak, ditemani ayah dan ibunya Arimas Puspita Wahanani, yang setia menjadi pendengar sekaligus pengkritik pertama.
Baca Juga: Bidik Juara Grup P di Stadion JSG, Intip Peluang Persid Jember Tekuk Persena Nagekeo Sore Nanti
Bagi Vizza, menyanyikan dangdut klasik bukan sekadar menyusun nada. Ada cerita yang harus dipahami sebelum lagu itu sampai ke telinga pendengar.
Karena itulah ia terbiasa mendengarkan lagu berulang kali, mempelajari liriknya, lalu menghadirkan emosi yang sama ketika berdiri di atas panggung. "Kalau ceritanya tentang sedih, ya berarti juga harus bawa sedihnya. Harus menghayati," ujarnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh