Radar Jember - Di balik balutan hijab hitam sederhana dan kebiasaannya berkutat dengan buku-buku bacaan, Novia Ulfa Isnaini menyimpan mimpi yang melampaui batas kampus.
Mahasiswi Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT), Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember itu membawa gagasannya tentang krisis iklim dan spiritualitas Islam ke forum akademik internasional di Istanbul, Turki.
Ketekunannya menulis dan meneliti mengantarkan tersebut lolos seleksi abstrak 13th International Bediuzzaman Symposium yang akan digelar pada Oktober 2026.
Menulis bukan hal baru bagi Novia, Alumnus Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Yasinat itu telah lama akrab dengan dunia literasi.
Berbagai tulisannya pernah menghiasi kolom-kolom edisi khusus media massa nasional. Ketertarikannya pada isu gender dan lingkungan pun terus berkembang seiring perjalanan akademiknya di bangku kuliah.
Buah dari kegemarannya tersebut kini berujung pada capaian membanggakan.
Novia berhasil meloloskan abstrak penelitian berjudul Reconstruction of Environmental Ethic Based on Eco-Spirituality: A Study of the Spiritual Approach to the Climate Crisis from the Perspective of Said Nursi.
Tulisan itu mengkaji rekonstruksi etika lingkungan berbasis eco-spirituality melalui pemikiran Said Nursi, ulama dan pembaru Islam asal Turki.
Melalui kajiannya, Novia mencoba menawarkan perspektif berbeda dalam merespons krisis iklim yang menjadi perhatian dunia.
Menurutnya, penyelesaian persoalan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan kebijakan, tetapi juga memerlukan perubahan kesadaran manusia dalam memandang alam.
"Saya melihat krisis iklim bukan hanya persoalan kerusakan lingkungan, tetapi juga krisis cara pandang manusia terhadap alam. Karena itu, saya tertarik mengkaji pendekatan spiritual sebagai bagian dari solusi yang bisa ditawarkan," ujar Novia yang juga sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN KHAS Jember.
Pendekatan spiritual itulah yang menjadi benang merah penelitian yang diajukannya. Ia menyoroti pentingnya membangun kembali relasi manusia dengan alam melalui nilai-nilai keagamaan.
Dalam pandangannya, alam bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi, melainkan amanah yang harus dijaga keberlangsungannya.
Keberhasilannya lolos seleksi terasa semakin istimewa karena persaingan yang dihadapi tidaklah ringan. Berdasarkan data panitia, simposium bertajuk, Qur'anic Solutions to Global Crises tersebut menerima 668 makalah dari 60 negara di enam benua.
Forum itu juga melibatkan ratusan akademisi, cendekiawan, ulama, pemimpin opini, hingga organisasi internasional dari berbagai belahan dunia.
Bagi Novia, kesempatan tampil dalam forum internasional menjadi ruang untuk memperkenalkan gagasan sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu berkontribusi dalam diskusi akademik global.
Apalagi isu lingkungan dan keberlanjutan menjadi persoalan yang saat ini dihadapi hampir seluruh negara.
"Bisa lolos dalam forum internasional ini tentu menjadi kebahagiaan sekaligus tantangan tersendiri. Saya berharap penelitian ini bisa memberi kontribusi bagi pengembangan kajian Islam dan kesadaran lingkungan yang lebih luas," pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh