Radar Jember - Sebelum nama Pantai Payangan dikenal luas seperti sekarang, wisata pantai di Jember lebih identik dengan dua destinasi legendaris. Yaitu Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma.
Pantai Watu Ulo telah lama menjadi ikon wisata Jember karena legenda batu karang panjang yang menyerupai sisik ular raksasa.
Dalam cerita rakyat setempat, batu tersebut dipercaya sebagai bagian tubuh ular yang membentang hingga ke laut selatan.
Setelah Watu Ulo, muncul Pantai Papuma. Bahkan, keindahan pasir putihnya dan gugusan batu karang besar, serta fasilitas wisata yang lebih lengkap membuat Pantai Papuma makin terkenal.
Baca Juga: Mobilitas Pelanggan Kereta Api di Daop 9 Jember Tetap Tinggi pada Hari Terakhir Libur Panjang
Selama bertahun-tahun, dua pantai inilah yang menjadi wajah wisata bahari Jember.
Di tengah popularitas kedua pantai tersebut, Pantai Payangan sebenarnya telah lama ada sebagai kampung nelayan di pesisir selatan Kecamatan Ambulu.
Perahu-perahu nelayan bersandar di teluk kecil yang tenang, sementara aktivitas masyarakat berpusat pada perikanan dan perdagangan hasil laut. Dulu, Pantai Payangan belum dianggap sebagai tujuan wisata utama.
Perubahan mulai terjadi sekitar pertengahan dekade 2010-an. Sejumlah pegiat wisata, fotografer, dan komunitas pencinta alam mulai mengeksplorasi sudut-sudut pantai selatan Jember yang masih alami.
Baca Juga: Update Pencarian Orang Hilang Terseret Ombak Pantai Selatan Jember, Satu Korban Akhirnya Ditemukan
Saat mendaki bukit di sisi timur Pantai Payangan, mereka menemukan pemandangan unik. Garis pantai yang dari ketinggian tampak membentuk simbol hati atau "love".
Temuan inilah yang kemudian melahirkan nama "Teluk Love". Sebelumnya, teluk tersebut tidak memiliki nama khusus dan jarang menjadi perhatian wisatawan.
Namun, foto-foto Teluk Love yang beredar melalui media sosial dengan cepat menarik perhatian masyarakat.
Wisatawan yang sebelumnya hanya menuju Watu Ulo atau Papuma mulai mampir ke Payangan untuk melihat langsung panorama teluk berbentuk hati dari atas bukit.
Dalam waktu relatif singkat, nama Teluk Love menjadi viral dan mengangkat popularitas Pantai Payangan.
Terlebih lagi dulu, berwisata ke Pantai Payangan ramah di kantong, ketimbang dua pantai di sampingnya. Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma. Sebab, Pantai Payangan tidak berbayar, hanya karcis parkir.
Kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata tersebut kemudian mendorong pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan pengelolaan kawasan secara swadaya.
Warga mulai menyediakan akses menuju bukit, area parkir, serta fasilitas sederhana bagi pengunjung.
Kajian pengembangan wisata menunjukkan bahwa masyarakat lokal berperan besar dalam memperkenalkan dan mengelola Teluk Love hingga menjadi salah satu destinasi unggulan Jember.
Kini, Pantai Payangan tidak lagi hanya dikenal sebagai kampung nelayan. Bersama Watu Ulo dan Papuma, kawasan ini menjadi salah satu ikon wisata pesisir Jember.
Jika Watu Ulo terkenal dengan legenda ular raksasa dan Papuma dengan panorama batu karangnya, maka Payangan memiliki daya tarik khas berupa perpaduan pantai, bukit, teluk berbentuk hati, serta kehidupan nelayan yang masih bertahan hingga saat ini. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh