Radar Jember - Seperempat abad bukan waktu yang sebentar bagi sebuah band untuk bertahan hidup.
Apalagi di kota seperti Jember, ketika musik keras kerap tumbuh di ruang-ruang kecil, berpindah dari panggung sederhana ke studio sempit, lalu hidup dari mulut ke mulut para penikmatnya.
Namun malam itu, Minggu (24/5), waktu seperti diputar ulang di Shata Space. Di kafe Jalan Tidar itu, tak ada panggung megah. Tak ada gemerlap lampu konser.
Hanya meja-meja kopi dan obrolan hangat. Denting percakapan tentang musik yang mengalir pelan di antara para musisi serta pencinta skena lintas generasi.
Baca Juga: Mobilitas Pelanggan Kereta Api di Daop 9 Jember Tetap Tinggi pada Hari Terakhir Libur Panjang
Dari generasi Y hingga Gen Z duduk tanpa sekat. Sebagian datang membawa kenangan musik awal 2000-an.
Sebagian lain baru mengenal nama Serversick dari platform digital. Mereka membaur dalam suasana sederhana yang justru terasa akrab bak reuni panjang yang ditunda terlalu lama.
Di tempat itulah band veteran ini akhirnya memperkenalkan album penuh perdana mereka, Distorsi Panggung Perak. Sebuah album yang lahir setelah penantian lebih dari dua dekade.
Serversick bukan nama asing di skena musik keras Jember. Band metalcore itu tumbuh sejak awal 2000, ketika pengaruh hardcore, metalcore, hingga industrial sedang deras-derasnya membentuk wajah musik independen daerah.
Baca Juga: Update Pencarian Orang Hilang Terseret Ombak Pantai Selatan Jember, Satu Korban Akhirnya Ditemukan
Jejak Bandung juga terasa kuat dalam tubuh mereka. Nama-nama seperti Koil dan Sel menjadi salah satu fondasi yang membentuk karakter sound Serversick di masa awal.
Selama bertahun-tahun, mereka hidup melalui single, album kompilasi, dan Extended Play (EP) Terdigitasi yang dirilis pada 2002. Tetapi album penuh selalu seperti mimpi yang menggantung di langit-langit perjalanan mereka.
Baru pada pertengahan 2024, para personel kembali berkumpul untuk membuka ulang materi lama. Sebagian lagu dibongkar, sebagian lainnya ditulis ulang dengan napas yang lebih gelap dan agresif. Keputusan untuk merilis album penuh akhirnya diambil saat usia band genap seperempat abad.
“Album ini bisa dibilang semacam gambaran perjalanan karier kami selama lebih dari dua dekade. Tentu ada penyesuaian sound dan juga penambahan lagu baru yang belum pernah dirilis sebelumnya,” ujar Dwi Wahyu Cahyono, Vokalis Serversick.
Selain Wiwid Corenk pada vokal, kini Serversick diperkuat Deden dan Marmuchan di lini gitar, serta Kiki Rooster di drum.
Mereka bukan lagi anak-anak muda yang dulu bermain musik dengan amarah mentah khas era nu metal awal 2000-an. Usia dan perjalanan hidup membuat musik mereka ikut berubah.
Perubahan itu terdengar jelas dalam tiga single yang lebih dulu dirilis sepanjang 2025: “Tanah Pembuangan”, “Dalam Kosong”, dan “Bias Hitam”. Lagu-lagu lama itu hadir dengan wajah baru yang lebih pekat, berat, dan muram.
“Di lagu-lagu versi baru, sound dan bangunan lagunya berubah cukup drastis dibandingkan dengan yang pernah kami rilis sebelumnya. Selain itu, cara bernyanyi dan interpretasi Corenk terhadap lagu-lagu Serversick juga amat berbeda, yang membuat atmosfer lagu juga amat berbeda,” jelas Deden.
Bagi Marmuchan, perubahan karakter musik itu tidak datang tiba-tiba. Mereka melalui banyak percobaan untuk menemukan suara baru yang tetap menyimpan identitas lama.
Tone gitar dibentuk ulang. Karakter drum diperkeras. Bass dibuat lebih tebal dan groovy, terinspirasi warna musik Coal Chamber.
“Dari situ kami mulai meracik ulang aransemen, tone gitar, karakter drum, hingga warna bass agar terdengar lebih solid dan modern. Dibantu sahabat kami, Yoyok OJ yang mengupgrade wiring gitar kami, Deden dan saya masih rajin mengulik sound baru sampai sekarang,” tutur Marmuchan.
Distorsi Panggung Perak berisi sembilan lagu yang diikat tema tentang kehancuran, kegelapan, dan kesuraman manusia modern. Namun di balik nuansa kelam itu, album ini justru terasa seperti perayaan panjang tentang persahabatan dan kesetiaan terhadap musik.
Serversick mengajak banyak wajah lama untuk kembali hadir di album tersebut.
Tety Kurniyawati kembali mengisi vokal latar di lagu “Dalam Kosong”, persis seperti yang ia lakoni dua puluh tahun silam.
Beberapa musisi lama juga ikut membantu di departemen bass, mulai Sandra dari NBHC, Rayen dari Second Story, hingga Opex dari Ratmi B29.
Dua gitaris tamu pun dilibatkan. Decky Zulkarnaen mengisi solo gitar di lagu “Bunuh Diri Sempurna”, sementara Jenar ObZen hadir dalam “Sketsa Visual”. Nama-nama itu bukan sekadar kolaborator. Mereka adalah serpihan perjalanan panjang Serversick yang kembali dipertemukan dalam satu album.
Malam itu, obrolan mengalir seperti lagu-lagu lama yang diputar kembali. Tawa pecah di sela aroma kopi dan cerita tentang masa ketika gigs kecil digelar seadanya, artwork album masih difotokopi, lalu CD dijajakan dari tangan ke tangan selepas pertunjukan usai.
Tak ada jarak di antara mereka. Musisi lama, penikmat musik generasi baru, hingga kawan-kawan seperjalanan duduk bercampur dalam suasana yang terasa lebih seperti reuni daripada acara peluncuran album. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh