Radar Jember – Ketersediaan tenaga bidan di Jember masih menjadi pekerjaan rumah di tengah besarnya kebutuhan layanan kesehatan ibu dan anak.
Data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Jember menunjukkan rasio bidan saat ini berada di angka 0,6 per 1.000 penduduk.
Angka tersebut berarti setiap satu bidan secara rata-rata melayani sekitar 1.667 penduduk.
Dengan jumlah penduduk Jember yang mencapai lebih dari 2,7 juta jiwa, kebutuhan tenaga bidan masih tergolong tinggi, terutama untuk memperkuat layanan kesehatan dasar hingga tingkat desa.
Baca Juga: Ogah Kecolongan! Satgas MBG Jember Kerahkan Tim Besar-besaran Pelototi Operasional 209 SPPG
Ketua Tim Pembina Puskesmas DinkesPPKB Jember Diyah Kusworini Indriaswati menyebutkan, jumlah bidan yang tercatat saat ini mencapai 1.642 orang.
Mereka tersebar di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, mulai puskesmas, rumah sakit, klinik hingga praktik mandiri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 931 bidan bertugas di 50 puskesmas.
Kemudian 344 bidan bekerja di 14 rumah sakit, 169 bidan berada di klinik, serta 189 lainnya menjalankan praktik mandiri di berbagai wilayah Jember.
Selain itu, terdapat sembilan bidan yang bertugas di lingkungan DinkesPPKB Jember.
Sementara berdasarkan kepemilikan Surat Tanda Registrasi (STR), jumlah bidan yang tercatat sebanyak 1.551 orang. “Berdasarkan kepemilikan STR, jumlah bidan tercatat 1.551 orang,” ujarnya.
Baca Juga: Sidak Maraton Dapur MBG Jember: Limbah Cucian Ompreng Dibuang Tanpa IPAL, Izin SLHS masih Bodong!
Meski jumlahnya mencapai ribuan, persebaran tenaga bidan menjadi faktor yang turut memengaruhi akses layanan kesehatan masyarakat.
Sebab, kebutuhan pelayanan tidak hanya dihitung dari jumlah penduduk, tetapi juga mempertimbangkan kondisi geografis serta jangkauan wilayah pelayanan. “Jika dirasiokan, maka berada di angka 0,6 per seribu penduduk Jember,” ucapnya.
Diyah menegaskan, bidan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan ibu dan anak. Mereka menjadi tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, hingga bayi baru lahir.
Pendampingan dilakukan sejak masa kehamilan sampai setelah persalinan. “Bidan merupakan tenaga kesehatan yang paling dekat dengan ibu hamil, ibu bersalin, nifas, bayi, dan keluarga di masyarakat,” tuturnya.
Baca Juga: Komunitas Scoopy Jember Community Tampil Retro Fashionable Lewat “Scoopy Your Mode, Your Ride”
Karena itu, keberadaan bidan dinilai tetap relevan dan strategis dalam upaya menekan risiko kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan di tingkat akar rumput. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh