Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bukan Coba Hitung Kekurangan, Achmad Dhafir Syah Tuntut Sinergi Lintas Profesi demi Jangkau 2,6 Juta Jiwa Warga

Sidkin • Senin, 1 Juni 2026 | 06:00 WIB
“Ini sangat naif sekali kalau itu dibebankan hanya menjadi tanggung jawab bidan. Ini harus komprehensif, harus bersinergi satu sama lain.” Achmad Dhafir Syah, Anggota Komisi D DPRD Jember. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
“Ini sangat naif sekali kalau itu dibebankan hanya menjadi tanggung jawab bidan. Ini harus komprehensif, harus bersinergi satu sama lain.” Achmad Dhafir Syah, Anggota Komisi D DPRD Jember. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Kebutuhan tenaga bidan di Jember masih belum sebanding dengan besarnya tantangan pelayanan kesehatan yang harus ditangani di lapangan.

Di tengah tingginya angka persoalan kesehatan ibu dan anak, keterbatasan jumlah bidan membuat beban pelayanan tak bisa hanya bertumpu pada satu profesi.

Karena itu, penguatan kolaborasi antartenaga kesehatan dinilai menjadi kunci untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Ogah Kecolongan! Satgas MBG Jember Kerahkan Tim Besar-besaran Pelototi Operasional 209 SPPG

Anggota Komisi D DPRD Jember Achmad Dhafir Syah menilai, selama ini bidan memang berada di garis terdepan dalam banyak persoalan kesehatan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan stunting, angka kematian ibu (AKI), hingga angka kematian bayi dan balita (AKB).

Namun, menurutnya, pandangan yang menempatkan bidan sebagai satu-satunya tumpuan penyelesaian persoalan tersebut merupakan cara berpikir yang keliru.

Penanganan kesehatan, kata dia, membutuhkan kerja bersama lintas profesi. “Ini sangat naif sekali kalau itu dibebankan hanya menjadi tanggung jawab bidan. Ini harus komprehensif, harus bersinergi satu sama lain,” ujarnya.

Dhafir memaparkan, jika dilihat dari komposisi tenaga kesehatan di Jember, jumlah perawat saat ini jauh lebih besar dibanding bidan. Perawat tercatat sekitar 6 ribu orang, sedangkan jumlah bidan berada di kisaran 2 ribu hingga 3 ribu orang.

Dengan angka tersebut, keduanya menjadi dua kekuatan utama dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Menurut dia, justru karena berada di garda terdepan, keduanya harus bergerak dalam satu irama.

Baca Juga: Sidak Maraton Dapur MBG Jember: Limbah Cucian Ompreng Dibuang Tanpa IPAL, Izin SLHS masih Bodong!

“Tumpuan kasus-kasus yang ada di Jember memang tidak bisa serta-merta kemudian dibebankan kepada salah satu tenaga kesehatan, bidan sendiri atau perawat sendiri,” katanya.

Dia juga menekankan pentingnya peran kader posyandu yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Meski sebagian besar tidak dibekali pendidikan formal di bidang kesehatan, pengalaman panjang serta kedekatan mereka dengan masyarakat menjadikan kader posyandu sebagai simpul penting pelayanan dasar.

Di akar rumput, mereka menjadi penghubung antara masyarakat dengan tenaga kesehatan profesional.

“Baik penanganan maupun pencegahan, termasuk edukasi, ini memerlukan sinergi dari semua pihak,” tegas Politisi PKS tersebut.

Baca Juga: Komunitas Scoopy Jember Community Tampil Retro Fashionable Lewat “Scoopy Your Mode, Your Ride”

Jika berbicara rasio ideal, Dhafir mengakui jumlah bidan di Jember memang belum memadai. Dengan jumlah penduduk yang menurut data BPS 2025 mencapai sekitar 2,6 juta jiwa, kebutuhan tenaga kesehatan masih sangat besar.

Dia bahkan menyebut, jika ingin pelayanan benar-benar menjangkau masyarakat secara maksimal, idealnya setiap desa memiliki satu bidan tetap.

“Kalau jumlah memang khusus bidan, berarti sangat-sangat kurang untuk kebutuhan masyarakat Jember. Kalau mau betul-betul bisa menempatkan satu bidan di satu desa,” katanya.

Meski demikian, dia memilih melihat persoalan itu sebagai tantangan untuk mengoptimalkan potensi yang ada, bukan sekadar berhenti pada hitungan kekurangan.

Menurutnya, dari sisi kompetensi, para bidan di Jember telah dibekali kemampuan yang cukup melalui berbagai pelatihan dan pembaruan keterampilan.

Baca Juga: Jember Sabet WTP Lagi, Gus Fawait: Ini Bukti Transparansi Membumi, Bukan Jargon Politik!

Dukungan dokter spesialis kandungan dan dokter anak yang diterjunkan langsung ke lapangan juga memperkuat kapasitas pelayanan.

“Insyaallah mereka sudah dibekali secara keilmuan dan mereka juga sudah di-update skillnya. Dokter kandungan dan dokter anak juga diturunkan untuk membantu para tenaga bidan yang ada di lapangan,” pungkasnya. (kin/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #DPRD jember #AKI/AKB #bidan