Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Satu Bidan Harus Layani 350 Ibu dan Anak, Ketua IBI Jember Bd Siti Romlah Bongkar Beban Kerja Ekstrem di Lapangan

Sidkin • Senin, 1 Juni 2026 | 05:00 WIB
“Bahkan untuk kelompok berisiko tinggi, seorang bidan mengawasi sekitar 60 sampai 70 pasien.” Bd. Siti Romlah, Ketua IBI Jember. (IBI JEMBER)
“Bahkan untuk kelompok berisiko tinggi, seorang bidan mengawasi sekitar 60 sampai 70 pasien.” Bd. Siti Romlah, Ketua IBI Jember. (IBI JEMBER)

Radar Jember - Beban kerja bidan di Jember masih tergolong tinggi, selain mendampingi ibu hamil hingga persalinan, mereka juga harus memantau kesehatan bayi, balita, hingga memberikan edukasi kepada keluarga.

Kondisi itu membuat peran bidan menjadi salah satu kunci dalam upaya menekan angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI-AKB).

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jember, Bd. Siti Romlah mengatakan, tantangan pelayanan kesehatan ibu dan anak di Jember tidak hanya berkaitan dengan aspek medis. Faktor sosial di masyarakat juga ikut memengaruhi keberhasilan penanganan kasus.

Baca Juga: Ogah Kecolongan! Satgas MBG Jember Kerahkan Tim Besar-besaran Pelototi Operasional 209 SPPG

Menurutnya, masih ada persoalan budaya, kondisi ekonomi keluarga, hingga tingkat pendidikan yang berdampak terhadap kesadaran masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.

Situasi tersebut menjadi salah satu penyebab AKI dan AKB di Jember masih perlu mendapat perhatian serius. Di lapangan, bidan tidak hanya bertugas memeriksa kehamilan atau membantu persalinan.

Mereka juga melakukan pemantauan kesehatan reproduksi, pendampingan masa nifas, pemeriksaan tumbuh kembang anak, hingga memberikan penyuluhan kesehatan kepada keluarga. “Bidan bukan hanya tenaga medis, tapi juga edukator di masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, keberadaan bidan dinilai menjadi garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat hingga tingkat desa dan dusun. Meski demikian, berbagai kendala masih sering ditemui.

Salah satunya ketika ibu hamil terlambat melakukan pemeriksaan atau menolak dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap meskipun telah menunjukkan tanda-tanda kehamilan berisiko tinggi.

Baca Juga: Sidak Maraton Dapur MBG Jember: Limbah Cucian Ompreng Dibuang Tanpa IPAL, Izin SLHS masih Bodong!

“Sering kali pasien menunda atau menolak rujukan padahal sudah ada tanda risiko,” katanya.

IBI Jember mencatat jumlah anggotanya saat ini sekitar 2.500 orang. Di sisi lain, jumlah sasaran pelayanan kesehatan ibu dan anak sangat besar, yakni sekitar 40 ribu ibu hamil, 36 ribu bayi, dan sekitar 150 ribu balita.

Dengan jumlah tersebut, satu bidan rata-rata menangani 280 hingga 350 ibu dan anak. “Bahkan untuk kelompok berisiko tinggi, seorang bidan mengawasi sekitar 60 sampai 70 pasien,” tuturnya.

Pelayanan di tingkat bawah memang turut dibantu sekitar 14.700 kader posyandu, namun peran bidan tetap menjadi penopang utama karena kader masih memerlukan pendampingan dan pembinaan secara berkelanjutan.

“Alhamdulillahnya masih ada bantuan tenaga dari ribuan kader posyandu untuk monitoring,” jelasnya.

Kompetensi Bidan Digenjot dengan Biaya Mandiri

Upaya peningkatan kapasitas bidan di Jember terus diperkuat seiring kompleksnya tantangan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jember menitikberatkan pada pembenahan tata kelola organisasi, peningkatan kompetensi, serta pemerataan tenaga di seluruh wilayah.

Ketua IBI Jember, Bd. Siti Romlah, menyebut seluruh anggota yang berjumlah sekitar 2.500 bidan terus dirangkul dalam sistem pembinaan organisasi.

Baca Juga: Komunitas Scoopy Jember Community Tampil Retro Fashionable Lewat “Scoopy Your Mode, Your Ride”

Mereka tersebar dalam berbagai lini pelayanan, baik yang bekerja di bawah fasilitas pemerintah seperti puskesmas dan rumah sakit, maupun bidan praktik mandiri (TPMB) yang menjadi tanggung jawab organisasi profesi. “Semua kami rangkul, baik yang di fasilitas kesehatan maupun praktik mandiri,” ujarnya.

Secara struktur, IBI Jember membagi wilayah kerja menjadi lima zona, yakni selatan, tengah, utara, timur, dan barat. Pembagian ini diperkuat dengan 24 ranting yang mencakup 31 kecamatan dan terhubung dengan 30 puskesmas.

Skema ini dilakukan untuk memastikan pemerataan layanan sekaligus memudahkan pembinaan anggota di lapangan. “Pembagian wilayah ini untuk memudahkan koordinasi dan pemerataan pelayanan,” katanya.

Selain penguatan organisasi, peningkatan kompetensi menjadi fokus utama. Salah satunya adalah pelatihan bagi bidan praktik mandiri. Hingga saat ini, sebanyak 402 bidan telah mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas dengan biaya mandiri.

“Pelatihan ini penting untuk memastikan standar pelayanan tetap terjaga,” jelasnya.

Empat pelatihan yang harus ditempuh dalam meningkatkan kompetensi, di antaranya Asuhan Persalinan Normal (APN) selama delapan hari dengan tambahan praktik dua hari dan target pendampingan satu bulan.

Selain itu, ada pelatihan kontrasepsi (pelkon) yang mencakup layanan KB dan konseling kepada pasien. “Kami pastikan materi pelatihan sesuai kebutuhan di lapangan,” ungkapnya.

Selanjutnya, penanganan kegawatdaruratan kebidanan serta pembaruan informasi terkait kesehatan ibu dan anak (KIA). Hal ini mencakup regulasi terbaru dari Kementerian Kesehatan hingga kebijakan di tingkat kabupaten. “Updating regulasi penting agar bidan tidak tertinggal informasi,” imbuhnya.

Untuk mengikuti satu paket pelatihan, peserta harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 10,7 juta secara mandiri. Program ini telah berjalan dalam empat angkatan.

Baca Juga: Jember Sabet WTP Lagi, Gus Fawait: Ini Bukti Transparansi Membumi, Bukan Jargon Politik!

Dari pelaksanaan tersebut, sekitar 120 bidan telah mengantongi sertifikat, disusul sekitar 90 bidan lainnya yang juga telah tersertifikasi. “Ini bentuk komitmen teman-teman bidan untuk terus meningkatkan kompetensi,” tegasnya.

Di sisi lain, aspek kode etik profesi juga terus ditekankan dalam setiap pembinaan. Bidan diingatkan untuk bekerja sesuai standar pelayanan, menjaga keselamatan pasien, serta tidak melampaui kewenangan. Profesionalisme dan integritas menjadi dasar utama dalam praktik kebidanan.

“Kode etik itu wajib dijaga, karena menyangkut keselamatan ibu dan anak,” pungkasnya. (nur)

Bidan di Jember dalam Angka

Rasio Jumlah Penduduk dan Bidan 
Jumlah penduduk     : 2,7 jiwa
Jumlah bidan        : 1.642 orang
Rasio bidan        : 0,6 per 1.000 penduduk
Satu bidan melayani     : 1.665 penduduk

Sasaran Pelayanan
Ibu hamil        : 40.000 orang
Bayi            : 36.000 anak
Balita            : 150.000 anak

Beban Pelayanan
1 bidan menangani 280–350 ibu dan anak

Kelompok Risiko Tinggi
1 bidan menangani 60–70 pasien risiko tinggi

Persebaran Bidan
Puskesmas        : 931 orang
Rumah sakit        : 344 orang
Klinik            : 169 orang
Praktik mandiri    : 189 orang
DinkesPPKB        : 9 orang

Bidan Memiliki STR    : 1.551 orang
Kader Posyandu    : 14.700 orang

SUMBER: DinkesPPKB Jember dan IBI Jember.

Editor : Imron Hidayatullahh
#jumlah bidan #Jember #IBI #AKI/AKB #bidan