Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tak Mau TPA Pakusari Ambyar, Pemkab Jember Minta Emak-Emak Pilah Sampah Organik Langsung dari Rumah

M Adhi Surya • Sabtu, 30 Mei 2026 | 07:00 WIB
MENGGUNUNG: Petugas meratakan sampah yang menggunung di TPA Pakusari beberapa waktu lalu. Kini, (YULIO FA/RADAR JEMBER)
MENGGUNUNG: Petugas meratakan sampah yang menggunung di TPA Pakusari beberapa waktu lalu. Kini, (YULIO FA/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Kondisi sampah di TPA Pakusari yang kian menggunung membuat pemerintah mulai menyiapkan perubahan besar dalam sistem pengelolaan sampah di Jember.

Ke depan, pola pembuangan terbuka bakal ditinggalkan dan masyarakat diminta mulai memilah sampah sejak dari rumah tangga.

Koordinator Tempat Pengolahan Sampah - Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Baratan, Nurul Hidayah mengatakan, volume sampah di TPA Pakusari saat ini sudah berada pada kondisi mengkhawatirkan.

Tinggi timbunan sampah diperkirakan mencapai sekitar 36 meter dan dinilai sudah melampaui kapasitas ideal tempat pembuangan akhir.

Baca Juga: Sukses Lobi Rp 90 Miliar, Gus Fawait Sebut Jember Bakal Dapat Proyek Revitalisasi Terbesar se-Indonesia

“TPA Pakusari memang kondisinya sudah over kapasitas dengan ketinggian sekitar 36 meter,” ujarnya.

Menurut pria yang akrab disapa Cak Oyong itu, kondisi itu tidak memungkinkan jika sistem open dumping terus dipertahankan.

Situasi tersebut juga diperkuat dengan adanya arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait penghentian sistem pembuangan terbuka di TPA Pakusari.

Karena itu, pemerintah daerah mulai mempercepat upaya penanganan sampah dengan menekan volume kiriman sampah ke TPA.

Salah satu skema yang mulai disiapkan yakni mengubah fungsi TPA Pakusari menjadi DPST atau Depo Pengolahan Sampah Terpadu.

Baca Juga: PILKADES: Pesta Demokrasi Desa atau Pesta ‘Cuan’? Delapan Kecamatan di Jember Masuk Zona Rawan

Dalam konsep tersebut, sampah yang masuk nantinya hanya berupa residu atau limbah yang memang sudah tidak dapat diolah kembali.

“TPA nanti dialihkan menjadi DPST dan yang masuk hanya residu, jadi pemilahan harus dibiasakan dari rumah,” kata Cak Oyong.

Dia menjelaskan, sebagian besar sampah rumah tangga diharapkan sudah selesai ditangani di tingkat lingkungan maupun TPS3R sebelum akhirnya dibuang ke lokasi pengolahan akhir.

Menurut dia, pengurangan sampah organik menjadi fokus utama dalam kebijakan tersebut.

Sebab, sampah organik masih mendominasi timbulan sampah rumah tangga dengan persentase sekitar 50 hingga 60 persen dari total sampah harian masyarakat.

Karena itu, masyarakat mulai didorong melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.

Selain memilah sampah organik dan anorganik, warga juga diimbau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tas belanja maupun botol minum sendiri saat beraktivitas.

“Tak hanya plastik, intinya jangan suka membuat tumpukan yang akhirnya jadi sampah, karena sekarang banyak souvenir berupa tumbler, ujung-ujungnya menumpuk tidak dipakai dan dibuang,” imbuhnya.

TPS3R Baratan sendiri mulai mengenalkan sejumlah metode pengolahan sederhana, mulai komposter hingga pipa kompos berbahan paralon yang bisa diterapkan di lingkungan rumah perkotaan dengan lahan terbatas.

“Walaupun rumah di perkotaan lahannya sempit, tetap bisa mengolah sampah organik sendiri,” pungkasnya. (dhi/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#pemilahan sampah #TPA Pakusari #Jember #TPS3R #Sampah