Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bukan Jenis Sheet! Intip Proses Konvensional Pengolahan Karet Crepe Berharga Tinggi di Lereng Gunung Pasang Jember

Maulana RJ • Selasa, 26 Mei 2026 | 06:00 WIB
CARA KONVENSIONAL: Salah satu pekerja yang bertugas melakukan packing karet sebelum dilakukan proses lebih lanjut, di pabrik pengolahan karet Perkebunan Gunung Pasang, di Desa Suci, Kecamatan Panti. (MAULANA/RADAR JEMBER)
CARA KONVENSIONAL: Salah satu pekerja yang bertugas melakukan packing karet sebelum dilakukan proses lebih lanjut, di pabrik pengolahan karet Perkebunan Gunung Pasang, di Desa Suci, Kecamatan Panti. (MAULANA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Aroma khas getah karet yang menyengat langsung menyambut siapa saja yang menapakkan kaki di area perkebunan afdeling Gunung Pasang, di Desa Suci, Kecamatan Panti, Jember.

Di bawah langit Jember yang kerap tak menentu, roda-roda mesin tua terus berputar, melumat gumpalan-gumpalan putih menjadi lembaran-lembaran berharga. ​

Bagi warga sekitar, denyut nadi kehidupan mereka berkelindan erat dengan pohon-pohon karet yang berjejer rapi di empat afdeling sekitar perkebunan ini.

Saban hari, sebelum fajar benar-benar menyingsing, para penyadap seperti Mudakir, sudah menembus kabut lereng gunung.

Baca Juga: Info Lantas Jember: Gagal Menanjak, Truk Muat Tebu Masuk Sawah

Bermodalkan pisau sadap dan mangkuk kecil, mereka mengais rezeki dari setiap tetes lateks yang mengalir.

"Kadang ya jadi buruh sadap, kadang juga seperti ini (packing karet) pokok semuanya dah," katanya, saat ditemui, beberapa pekan lalu, di Pabrik Pengolahan Karet Perkebunan Gunung Pasang, Suci, Jember.

​Namun, beberapa tahun belakangan bukan masa yang mudah. Tantangan cuaca kerap menjadi musuh utama.

Ketika musim hujan tiba, senyum para petani sadap karet sering kali ikut luntur bersama air langit. ​

"Kalau musim hujan gini produksi turun, banyak getah yang rusak," kata Siswanto, Supervisor Material Perkebunan Gunung Pasang, sembari menunjukkan lembaran karet yang sedang diproses.

Baca Juga: Kembangkan Bibit Potensial Pemain Profesional, Liga Mahasiswa di Jember Resmi Bergulir

​Tak hanya hujan, tantangan alami juga datang saat musim kemarau tiba. Istilah lokal, kata Siswanto, untuk musim kemarau saat pohon karet meluruhkan daunnya. Di fase itu, produksi getah otomatis merosot.

Di hari-hari normal, pabrik ini mampu menghasilkan sekitar 4 kuintal karet kering per hari, hasil dari pengolahan sekitar 800 liter hingga lebih dari 1 ton lateks cair yang disetor oleh sekitar 40-an penyadap di sekitar wilayah perkebunan.

​Di tengah ketidakpastian alam, secercah harapan baru berembus dari lantai pasar. Komoditas karet yang sempat lesu kini perlahan mulai menggeliat. Ada gairah baru yang dirasakan oleh manajemen maupun para pekerja di lantai pabrik. ​

"Semua komoditi sepertinya ada peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Khusus karet, kemarin awalnya di harga Rp 24 ribu per kilogram, sekarang sudah meningkat jadi Rp 33 ribu sampai Rp 34 ribu. Lumayan sudah," kata Baharuddin, bagian di Manajerial Perkebunan Gunung Pasang.

Baca Juga: Bupati Jember Bertemu Wamensesneg, Bahas Akselerasi Pembangunan Daerah

​Kenaikan harga ini bak angin segar. Maklum, harga karet lokal sangat bergantung pada dinamika pasar global, termasuk volume impor karet dari luar negeri yang kerap menggoyang stabilitas harga domestik.

​Uniknya, berbeda dengan kebun perusahaan daerah perkebunan lain yang memproduksi karet jenis sheet. Gunung Pasang memiliki senjata andalan tersendiri. Karet crepe.

Karet ini diolah dengan mencampurkan bahan kimia asam semut untuk pembekuan, menciptakan lembaran kuning berkualitas tinggi yang siap dikirim demi memenuhi Delivery Order (DO) dari berbagai pabrik manufaktur nasional di Malang, Surabaya, hingga Bandung.

Salah satunya sebagai bahan baku pembuatan ban. ​Di sudut pabrik, saat itu, Yudi Hariyanto terlihat sibuk. Sebagai tenaga pabrik sekaligus warga lokal, ia bertugas memastikan proses packing lembaran-lembaran karet mentah berjalan sempurna sebelum dimuat ke dalam truk.

Sekali kirim, volumenya tak main-main, berkisar antara 6 hingga 12 ton tergantung permintaan pasar. Dalam setahun, Kebun Gunung Pasang rata-rata mampu mengapalkan hingga 150 ton karet crepe.

Baca Juga: Ikhtiar Cetak Generasi Cerdas dan Berkarakter, Gus Fawait Temui Jajaran Ditjen PAUD Bahas Nasib Pendidikan Anak Jember

​Meski saat ini seluruh produksinya masih diserap oleh pasar lokalan dan belum merambah jalur ekspor langsung, asa itu tidak pernah padam.

Lembaran-lembaran karet kuning yang menumpuk di gudang bukan sekadar komoditas dagang, tetapi simbol ketangguhan para pencari nafkah di lereng Gunung Pasang yang menolak menyerah oleh cuaca.

"Jadi semuanya tergantung permintaan, seperti yang ini mau dikirim ke Malang, kadang juga ke Bandung," tambah Yudi Hariyanto, petugas packing karet crepe saat ditemui di pabrik. (dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#gunung pasang #getah karet #perkebunan karet #Jember #Berita Jember