Radar Jember – Dulu, kajian Islam di kampus-kampus Eropa dan Barat tumbuh begitu pesat. Berbagai riset lahir, pusat studi berkembang, dan perhatian akademisi terhadap keilmuan Islam cukup besar. Namun, situasi itu perlahan berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Intensitas kajian keislaman di sejumlah perguruan tinggi internasional mulai menurun. Gejala serupa perlahan terasa di Indonesia, termasuk di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam yang kini dihadapkan pada perubahan minat calon mahasiswa.
Fenomena tersebut mendorong Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember menghadirkan ruang diskusi akademik bertajuk Quo Vadis Studi Islam di PTKI: Prospek dan Tantangan di International Class Gedung BEC, Kamis (21/5).
Baca Juga: Info Lantas Jember: Terobos Lampu Merah, Simpang Empat Mangli Rawan Macet
Dua pakar nasional, Prof Abdurrahman Mas’ud dan Prof Nur Syam, dihadirkan untuk membedah arah baru studi Islam.
Rektor UIN KHAS Jember Hepni mengatakan, perubahan ini perlu dibaca secara jernih agar kampus mampu merumuskan langkah yang tepat.
Kajian Islam, menurutnya, sedang menghadapi tantangan besar di tengah berkembangnya disiplin ilmu baru.
“Kalau melihat fenomena hari ini, kajian-kajian tentang Islam terutama di Eropa dan Barat semakin lama semakin menurun. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika mereka betul-betul intens melakukan kajian tentang keislaman,” ujarnya.
Di internal sendiri, perubahan itu tampak dari berkurangnya dominasi minat program studi keislaman di kampus berbasis Islam. Jika dulu prodi-prodi tersebut menjadi pilihan utama, maka kini kondisinya mulai berimbang dengan meningkatnya minat terhadap program studi umum.
Baca Juga: Dua Kali Curanmor di Depan Polsek Gumukmas Jember, Pelaku Sama-sama Bawa Sajam!
Perubahan pilihan itu dinilai sebagai konsekuensi dari kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Dunia kerja yang semakin kompetitif membuat calon mahasiswa lebih selektif menentukan arah pendidikan mereka.
Hepni menilai kondisi tersebut bukan alasan untuk pesimis. Justru, ini menjadi kesempatan bagi perguruan tinggi Islam untuk memperbarui pendekatan, kurikulum, dan orientasi keilmuan agar tetap selaras dengan kebutuhan zaman.
“Program studi Islam mengalami pengurangan minat karena memang mulai berimbang dengan prodi umum,” katanya.
Lewat forum tersebut, Ia berharap lahir gagasan kebijakan yang mampu membuka kembali prospek studi Islam di Indonesia.
Kampus ingin keilmuan Islam tak sekadar bertahan, melainkan terus tumbuh sebagai disiplin yang adaptif dan menjawab tantangan masa depan.
“Oleh karena itu kami mengundang dua pakar hebat ini untuk melihat bagaimana secara kebijakan menghidupkan kembali prospek studi Islam di Indonesia,” pungaksnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh