Radar Jember - Gunungan sampah di Tem[at Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari terus meninggi.
Kondisi itu membuat pemerintah mulai menyiapkan perubahan sistem pengelolaan sampah di Jember, termasuk mengurangi ketergantungan pembuangan sampah langsung ke TPA.
Koordinator TPS3R Baratan, Nurul Hidayah mengatakan, tinggi timbunan sampah di TPA Pakusari saat ini diperkirakan sudah mencapai sekitar 36 meter.
Menurut dia, kondisi tersebut sudah melebihi kapasitas dan tidak memungkinkan terus memakai sistem pembuangan terbuka.
“TPA Pakusari memang kondisinya sudah over kapasitas dengan ketinggian sekitar 36 meter,” ujarnya saat ditemui di Kantornya.
Situasi itu diperkuat dengan adanya surat dari Menteri Lingkungan Hidup terkait rencana penghentian sistem open dumping atau pembuangan terbuka di TPA Pakusari.
Karena itu, pemerintah daerah mulai mempercepat langkah penanganan sampah agar penumpukan tidak terus bertambah.
Salah satu langkah yang disiapkan yakni mengalihkan fungsi TPA Pakusari menjadi Depo Pengolahan Sampah Terpadu (DPST).
Jika sistem tersebut diterapkan, lokasi itu nantinya hanya menerima sampah residu dan limbah tertentu yang memang tidak dapat diolah kembali.
“TPA nanti dialihkan menjadi DPST dan yang masuk hanya residu,” kata Cak Oyong sapaan akrabnya.
Dia menjelaskan, sebagian besar sampah rumah tangga nantinya diharapkan selesai di tingkat masyarakat maupun tempat pengolahan sampah terpadu.
Pengurangan sampah organik menjadi sasaran utama dalam kebijakan tersebut.
Sebab, sampah organik disebut mendominasi volume sampah rumah tangga dengan persentase mencapai sekitar 50 hingga 60 persen dari total sampah harian.
Melalui surat edaran yang ditandatangani bupati, masyarakat mulai didorong melakukan pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari rumah.
Warga juga diminta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tas belanja maupun botol minum sendiri saat beraktivitas.
Cak Oyong menambahkan, pengolahan sampah organik sebenarnya bisa dilakukan dengan cara sederhana.
TPS3R Baratan saat ini mulai mengenalkan metode komposter hingga pipa kompos berbahan paralon yang dinilai tetap bisa diterapkan di rumah perkotaan dengan lahan terbatas.
“Walaupun rumah di perkotaan lahannya sempit, tetap bisa mengolah sampah organik sendiri,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh