Radar Jember - Matahari belum sepenuhnya meninggi di ufuk timur Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Jember. Namun, di sebuah rumah sederhana, kesibukan tak biasa sudah menyeruak sejak pagi.
Di sudut ruangan, sebuah koper besar dengan atribut jemaah haji berdiri kokoh. Di dekatnya, Hanifan Rasidi Jokoreso, duduk dengan tatapan mata yang berkaca-kaca, memandangi pakaian ihram yang sebentar lagi akan melekat di tubuhnya.
Bagi tetangga sekitarnya, Hanifan adalah sosok yang biasa mereka temui di galengan sawah. Kulitnya yang legam kehitaman dan gurat-gurat dalam di wajahnya adalah saksi bisu dari puluhan tahun hidup sebagai buruh tani.
Ia tidak memiliki sejengkal pun tanah. Saban hari, hidupnya bergantung pada perintah orang lain. Menanam tomat, merawat padi, atau memanen timun di lahan milik juragan.
Namun, di balik tubuh rentanya yang kerap bermandikan keringat, Hanifan memeluk sebuah impian yang amat besar. Impian yang bagi sebagian orang berpenghasilan pas-pasan dianggap sebagai kemustahilan, menginjakkan kaki di tanah suci Makkah.
"Saya ini cuma buruh tani, pekerjaannya ya disuruh-suruh orang," kata Hanifan, saat ditemui, belum lama ini (12/5).
Perjalanan spiritualnya tidak dimulai dari limpahan materi, tepatnya sejak delapan tahun lalu. Saban kali musim panen tiba dan upah menggarap sawah cair, dia istiqomah menyisihkan sebagian hasil keringatnya.
Ia rela memangkas keinginan-keinginan duniawi lainnya. Baginya, setiap keping uang yang ditabung adalah satu langkah lebih dekat menuju Baitullah. Konsistensi itu ia jaga selama sewindu.
Dari peluh keringat yang menetes di tanah Bangsalsari itu, impiannya mulai terwujud. Tahun 2026 ini, nama Hanifan resmi tercantum dalam manifes jemaah haji yang siap diberangkatkan. "Alhamdulillah, senang sekali (bisa berangkat)," ucap pria berusia 69 tahun ini.
Keberangkatan Hanifan pada musim haji ini tergabung dalam Kloter 93, di Embarkasi Surabaya, pada 14 Mei 2026 kemarin.
Tanpa didampingi keluarga tercinta, pria paruh baya ini akan menapaki rukun Islam kelima seorang diri, bermodalkan fisik yang terus dijaga dan doa yang tak putus-putus.
Segala persiapan, mulai dari manasik hingga pemeriksaan kesehatan, telah ia rampungkan dengan pasrah dan ikhlas.
Kisah Hanifan bukan saja menginspirasi, dia seperti meruntuhkan dinding pesimisme bahwa ibadah haji hanya milik kaum berkantong tebal. Kini, dari petak sawah di Sukorejo, Hanifan siap mengetuk pintu langit di depan Kakbah. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh