Radar Jember - Suasana tawa anak-anak terdengar bersahutan dari sudut ruangan itu. Di antara hamparan buku cerita bergambar, beberapa anak tampak duduk lesehan sambil sesekali menunjuk ilustrasi yang menarik.
Seorang ibu di depan mereka membaca dengan suara lantang, lengkap dengan perubahan nada dan ekspresi yang membuat suasana terasa hidup. Sesekali anak-anak itu ikut menebak jalan cerita.
Ada yang spontan menjawab keras, ada pula yang tertawa saat tokoh di dalam buku digambarkan sedang ketakutan. Tidak ada kesan sedang belajar serius.
Pemandangan siang itu justru lebih mirip kumpulan keluarga yang sedang menikmati waktu bersama lewat cerita-cerita sederhana.
Bagi komunitas membaca nyaring, kedekatan anak dengan buku memang tidak dibangun lewat paksaan. Anak-anak diajak menikmati cerita terlebih dahulu, sebelum akhirnya tumbuh rasa penasaran untuk membaca sendiri.
Ketua Read Aloud Jember, Enny Tyasati, mengatakan kebiasaan membaca nyaring bisa membantu anak lebih akrab dengan buku sejak dini.
Menurutnya, anak biasanya lebih mudah tertarik ketika cerita disampaikan dengan ekspresi dan intonasi yang hidup. “Anak itu suka suasana yang hangat. Jadi membaca jangan dibuat seperti sedang diuji,” ujarnya.
Saat mendengarkan cerita, anak perlahan belajar fokus pada alur dan tokoh yang muncul di dalam buku. Tanpa sadar, mereka juga mulai mengenal banyak kosakata baru.
Bahkan beberapa anak terlihat mulai berani mengulang kalimat-kalimat yang sebelumnya dibacakan oleh pendampingnya.
Tak hanya anak-anak yang menikmati suasana tersebut. Beberapa orang tua tampak ikut larut dalam cerita. Ada yang tersenyum sendiri saat bagian lucu muncul, ada pula yang sibuk memperagakan ekspresi tokoh agar anaknya semakin antusias mendengarkan.
Menurut Enny, membaca nyaring bukan hanya soal kemampuan membaca. Lebih dari itu, kegiatan tersebut juga menjadi cara sederhana membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Momen membaca bersama sering kali membuat anak merasa lebih diperhatikan karena ada interaksi yang terjalin selama cerita berlangsung.
Di tengah aktivitas anak-anak yang kini lekat dengan gawai, kebiasaan membaca nyaring diharapkan bisa menjadi ruang lain yang lebih hangat dan menenangkan.
“Anak-anak tidak sekadar sibuk menatap layar, tetapi juga belajar berimajinasi lewat cerita yang mereka dengar,” pungkasnya. (nur)
Editor : Imron Hidayatullahh