Radar Jember - Saat dunia pesantren kerap dianggap jauh dari teknologi, Edo Shieva Susanto membalik anggapan itu.
Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember tersebut lolos sebagai Google Student Ambassador 2026 setelah bersaing dengan puluhan ribu mahasiswa se Indonesia.
Sepintas tak ada yang berbeda dari unggahan ucapan selamat di kanal resmi kampus berlatar keagamaan di Jember itu.
Foto seorang mahasiswa terpampang rapi lengkap dengan capaian yang diraih, hal yang lumrah, sebagaimana bentuk apresiasi kampus kepada mahasiswa berprestasi.
Namun, rasa penasaran muncul ketika prestasi itu dibaca lebih detail. Edo Shieva Susanto, mahasiswa program studi Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT) UIN KHAS Jember, justru masuk dalam daftar Google Student Ambassador (GSA) 2026.
Sebuah capaian yang identik dengan dunia teknologi, coding, dan pengembangan digital. Bagaimana mungkin mahasiswa yang sehari-hari berkutat dengan kajian tafsir, ulumul Quran, hingga literatur keislaman bisa menembus program bergengsi milik perusahaan teknologi kelas dunia itu.
Apalagi, di jurusan yang ditempuhnya tidak ada mata kuliah pemrograman ataupun pembelajaran teknis IT secara khusus. Edo mengaku awalnya juga tak pernah membayangkan bisa berada di titik tersebut.
Ketertarikan Edo mendaftar GSA rupanya berangkat dari kegelisahannya melihat perkembangan teknologi yang semakin pesat, terutama kehadiran Akal Imitasi atau Artificial Intelligence (AI). Dia merasa teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman.
“Saya ingin ikut berperan dalam menghilangkan stigma buruk terhadap AI, bahwa teknologi ini bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi alat yang bisa dimanfaatkan secara positif dan bijak,” kata Edo.
Kepercayaan dirinya juga tumbuh dari latar belakangnya sebagai alumni Pondok Pesantren Sullamul Hidayah, Probolinggo. Selama enam tahun, Edo ditempa dalam lingkungan pesantren yang membentuk sikap disiplin, mandiri, dan ketekunan belajar.
“Saya ingin menunjukkan bahwa santri atau lulusan pesantren itu juga mampu berkembang di berbagai bidang, termasuk teknologi dan inovasi digital,” tuturnya.
Perjalanan menuju GSA tidak dilalui dengan mudah. Edo harus bersaing dengan sekitar 81.800 mahasiswa dari seluruh Indonesia dalam proses pendaftaran.
Dari jumlah tersebut, hanya 2.000 mahasiswa yang dipilih sebagai kandidat GSA sebelum akhirnya disaring lagi menjadi 150 peserta yang dinyatakan lolos.
Edo menjadi salah satu mahasiswa yang berhasil masuk daftar tersebut dan mengikuti inagurasi GSA di Jakarta Selatan pada 22 hingga 25 April lalu.
“Salah satu kebanggaan dan boost awal bagi langkah saya dalam merealisasikan program GSA ke depannya,” ungkapnya.
Selama proses seleksi, para kandidat tidak hanya diuji dari sisi akademik. Mereka juga harus mampu menunjukkan visi, kontribusi, hingga dampak yang bisa diberikan di lingkungan kampus melalui pemanfaatan teknologi.
“Kandidat harus mampu menunjukkan visi, kontribusi yang ingin diberikan, serta keunikan latar belakang yang dimiliki,” kata Edo.
Edo mengaku, dengan terpilihnya sebagai GSA ia memiliki mandat untuk menjadi penghubung pengembangan teknologi digital di lingkungan kampus, khususnya dalam memperkenalkan pemanfaatan AI kepada mahasiswa.
“Saya juga memiliki tanggung jawab untuk membuat kegiatan yang berdampak, seperti workshop, seminar, maupun diskusi seputar teknologi,” ujarnya.
Bagi Edo, status GSA bukan sekadar predikat, melainkan kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan di era digital. Di luar kiprahnya di bidang teknologi, Edo juga memiliki rekam jejak akademik dan organisasi yang cukup mencolok.
Pria kelahiran Probolinggo itu tercatat pernah menyelesaikan hafalan Alquran sebanyak 10 juz. Dia juga aktif di ekstra juga intra sebagai anggota Bidang Keilmuan HMPS IAT UIN KHAS Jember. (dhi/dwi)