Radar Jember - Lonjakan kasus campak rubella di Kabupaten Jember mulai mengkhawatirkan karena mayoritas penderita berasal dari kelompok usia balita dan anak-anak.
Kondisi tersebut membuat Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Jember mempercepat program outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi serentak di sejumlah wilayah zona merah.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPKB Jember dr Rita Wahyuningsih mengatakan, berdasarkan data terbaru, kelompok usia anak-anak masih menjadi populasi paling rentan terpapar campak, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Baca Juga: Update Laka Lantas Jember Hari Ini: Hindari Jalan Rusak Berakhir Dlosor
Dari total kasus yang tercatat, sebanyak 29 kasus ditemukan pada bayi usia di bawah satu tahun. Sebagian besar bayi tersebut diketahui belum memasuki jadwal imunisasi pertama sehingga belum memiliki perlindungan optimal terhadap virus campak.
Selain itu, sebanyak 44 kasus lainnya ditemukan pada anak usia 1 hingga 4 tahun. Mayoritas dari mereka memiliki riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau bahkan belum pernah menerima vaksin campak sama sekali.
“Kalau melihat data usia, populasi yang paling berisiko memang anak-anak balita dengan status imunisasi yang belum lengkap,” jelas Rita.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam pengendalian persebaran campak di Jember. Sebab, anak-anak dengan imunitas rendah lebih mudah tertular dan berpotensi menjadi sumber penularan baru di lingkungan sekitar.
Karena itu, Dinkes mempercepat pelaksanaan ORI di sejumlah wilayah dengan tingkat kasus tinggi. Program imunisasi serentak tersebut dilakukan untuk membentuk kekebalan kelompok sekaligus memutus rantai penularan.
Baca Juga: Info Laka Lantas Jember: Gagal Mendahului Truk, Tabrak Truk
Sepanjang tahun 2025, ORI atau imunisasi serentak telah dilaksanakan di 14 puskesmas. Sedangkan pada 2026 ini, program serupa diprioritaskan di tiga wilayah dengan temuan kasus tinggi, yakni Puskesmas Sumberjambe, Ledokombo, dan Silo 2.
Rita menjelaskan, ORI dilakukan segera setelah wilayah dinyatakan memenuhi syarat kejadian luar biasa (KLB). Langkah cepat itu dinilai penting agar penularan tidak semakin meluas ke desa-desa lain.
Selain imunisasi, Dinkes juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya vaksinasi dasar lengkap bagi anak-anak. Sebab hingga kini masih ditemukan sebagian masyarakat yang menunda atau tidak melengkapi imunisasi anak.
Sekretaris Komisi D DPRD Jember Indi Naidha meminta pendekatan kepada masyarakat diperkuat melalui kader kesehatan dan pemetaan wilayah berbasis desa.
Menurutnya, edukasi yang tepat sasaran menjadi kunci meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi.
“Penanganan campak tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan saja. Semua pihak harus terlibat agar kasus tidak terus bertambah,” ujarnya.
Dengan tren kasus yang masih meningkat pada awal Mei, pemerintah berharap masyarakat lebih aktif membawa anak mengikuti imunisasi serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala campak seperti demam, hingga ruam merah. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh