Radar Jember - Persoalan campak di Jember yang semakin mengkhawatirkan itu dibahas dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara Komisi D DPRD Jember bersama Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Jember serta perwakilan puskesmas, Senin kemarin (11/5).
Berdasarkan data Dinkes PPKB Jember, hingga akhir April lalu jumlah suspek campak tercatat mencapai 107 kasus dengan 25 kasus di antaranya terkonfirmasi positif.
Namun memasuki pekan pertama Mei, jumlah temuan kembali bertambah 12 kasus suspek sehingga totalnya meningkat menjadi 119 kasus.
Baca Juga: Update Laka Lantas Jember Hari Ini: Hindari Jalan Rusak Berakhir Dlosor
Kepala Dinkes PPKB Jember M Zamroni mengatakan, hasil pemeriksaan laboratorium terbaru membuat angka kasus positif ikut melonjak signifikan.
Dari hasil akumulasi data terbaru, total warga yang dipastikan positif campak kini mencapai 40 orang. “Dari data yang positif terjangkit ada 40 orang,” ujarnya.
Menurut Zamroni, persebaran kasus kini tidak lagi terkonsentrasi di satu wilayah saja.
Penyakit tersebut telah ditemukan di banyak kecamatan dan menyebabkan 15 puskesmas memenuhi syarat penetapan status KLB.
Dia menjelaskan, status KLB ditentukan ketika ditemukan minimal dua kasus positif dalam satu desa yang memiliki hubungan epidemiologis atau rantai penularan yang saling berkaitan.
Baca Juga: Info Laka Lantas Jember: Gagal Mendahului Truk, Tabrak Truk
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPKB Jember dr Rita Wahyuningsih menjelaskan, kenaikan angka positif bukan semata karena munculnya kasus baru secara tiba-tiba.
Sebagian besar tambahan kasus berasal dari hasil pemeriksaan laboratorium Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya terhadap sampel yang sebelumnya masih menunggu hasil.
“Begitu hasil laboratorium keluar, data langsung kami akumulasi dalam laporan terbaru,” katanya.
Dari pemetaan terbaru, Kecamatan Ledokombo menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Dari 12 kasus suspek yang ditemukan, tujuh di antaranya dinyatakan positif campak.
Sementara Kecamatan Sumberjambe mencatat delapan suspek dengan lima kasus positif.
Sedangkan Kecamatan Mayang menjadi wilayah dengan tingkat konfirmasi tertinggi karena seluruh sampel yang diperiksa menunjukkan hasil positif.
Menurut Rita, tingginya angka konfirmasi positif menjadi indikator utama penentuan zona merah persebaran campak di Jember.
Karena itu, ketika syarat KLB terpenuhi, Dinkes langsung mempercepat langkah penanganan melalui outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi serentak di wilayah terdampak.
“Kalau memenuhi syarat, penanganan langsung kami percepat melalui ORI atau imunisasi serentak,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi D DPRD Jember Indi Naidha menilai penanganan campak harus dilakukan secara kolaboratif dan tidak hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan semata.
Baca Juga: VIRAL! Anggota DPRD Jember Ini Malah Asyik ngegame Saat Rapat, Ini Profil si Anggota Dewan
Menurutnya, edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya imunisasi perlu diperkuat dengan melibatkan kader kesehatan hingga pemerintah desa.
“Ini harus menjadi prioritas bersama. Kejadian luar biasa campak bukan hanya tanggung jawab dinas atau masyarakat saja, tapi harus diselesaikan melalui kolaborasi bersama,” tegas politisi PDIP tersebut. (kin)
Editor : Imron Hidayatullahh