Radar Jember - Pagi itu di RSD Balung, keriuhan antrean pasien tak menyurutkan langkah Muhammad Eka Desta Pratama.
Pemuda 20 tahun asal Dusun Pumo, Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan ini tampak tenang meski harus menjalani serangkaian prosedur medis yang melelahkan.
Kedatangannya hari itu bukan karena sakit, tetapi ia sedang menjemput gerbang masa depannya yang membentang jauh hingga ke Negeri Sakura.
Desta, begitu ia akrab disapa, sedang mengurus hasil medical check-up sebagai syarat mutlak mengantongi kontrak kerja di Jepang.
Mulai dari rontgen paru-paru, cek jantung, hingga tes laboratorium telah ia lalui demi memastikan fisiknya siap bertarung di perantauan.
Baginya, hasil kesehatan yang dinyatakan lolos adalah tiket emas pertama yang harus ia genggam.
Menariknya, motivasi Desta terbang ke Jepang tak melulu soal angka di slip gaji. Di balik mimpinya, ada kecintaan tulus pada dunia anime.
Judul-judul populer seperti One Piece dan Jujutsu Kaisen, bukan sekadar hiburan baginya, tetapi menjadi jendela yang memicu rasa penasaran untuk merasakan langsung etos kerja dan budaya di sana.
"Awalnya saya ragu mau bilang ke orang tua," kenang Desta, menceritakan niatnya, kepada Jawa Pos Radar Jember, (27/5).
Namun, keraguan itu pupus seketika. Seolah ada ikatan batin, sebelum ia sempat mengucap kata, orang tuanya justru lebih dulu menyarankan agar ia mengambil kursus bahasa dan mencoba peruntungan ke Jepang.
Restu yang mengalir deras itulah yang kini menjadi bahan bakar utamanya untuk berangkat pada September atau Oktober mendatang.
"Setelah lulus aliyah, saya tidak menikah dulu, tapi memang ingin fokus kerja," aku si sulung dari dua bersaudara itu.
Dia mengaku, banyak teman-temannya setelah lulus sekolah memilih menikah. Tapi dia paham, bahwa untuk menikah itu bukan urusan di KUA saja.
Baca Juga: Info Kebakaran Jember Terbaru: LPG Bocor Rumah Ludes Terbakar
Melainkan harus matang secara keseluruhan. Setidaknya, berani bekerja ke Jepang membawa inspirasi anak muda desa setempat agar tidak terburu-buru menikah.
Meski memegang ijazah jurusan komputer, di salah satu Madrasah Aliyah di sekitar tempat tinggalnya, Desta tak ragu memilih sektor konstruksi bangunan di Jepang.
Ia melihat banyak rekan se negaranya sukses di bidang tersebut, dan ia siap menempa diri dalam kontrak awal selama tiga tahun ke depan.
Setelah selesai mengurus medical check-up ini, ia sedianya akan menjalani pelatihan kursus bahasa dan pematang skil yang disediakan oleh agensi yang diikutinya, selama tiga bulan mendatang.
"Berkas-berkasnya sudah semua, tinggal menunggu Certificate of Eligibility-nya turun, setelah itu baru mengurus visa kerja, dan berangkat," kata pemuda berusia 20 tahun ini.
jemberBaca Juga: Jember Berangkatkan Ribuan Haji! 70 Bus Mewah Siap Antar Calon Tamu Allah Menuju Embarkasi Sukolilo Surabaya!
Tak sendirian, ia berangkat bersama rekan seprofesi lainnya seperti Yoga dari Puger, serta Bagus, Andika, dan Bayu dari Balung.
Di balik semangat mudanya, ada satu janji suci yang ia simpan rapat dalam hati. Bukan untuk membeli kemewahan pribadi, Desta bertekad mengumpulkan pundi-pundi Yen demi satu tujuan mulia.
Meski belum memiliki pengalaman, bagi Desta, perjalanan ribuan kilometer ke Jepang hanyalah sebuah rute panjang untuk membawa orang tuanya ke Tanah Suci.
"Niat saya ingin mengumrahkan atau menghajikan orang tua," ucapnya penuh keyakinan. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh