Radar Jember - Di tengah kepungan teknologi digital, detak jantung budaya tradisional justru semakin kencang terdengar dari lereng timur Kabupaten Jember.
Tepatnya di Desa Ledokombo, yang kembali menjadi saksi ketangguhan warisan budaya melalui peluncuran Festival Egrang Tanoker ke-14, Sabtu (9/5).
Mengusung tema “Membangun Harmoni Komunitas Melalui Permainan Tradisional,” ajang ini menegaskan bahwa bambu egrang bukan sekadar kayu pijakan, tapi perlawanan terhadap degradasi nilai di era modern.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria, hingga Pj. Sekda Jember, Akhmad Helmi Luqman (mewakili Bupati Gus Fawait), turut menjadi saksi kemeriahan event setahun sekali itu.
Wamenkomdigi, Nezar Patria, menyoroti urgensi permainan tradisional sebagai obat penawar bagi generasi yang terpapar arus digitalisasi masif.
Ia memandang egrang sebagai media krusial untuk mengasah karakter anak bangsa.
“Permainan egrang mengajarkan keberanian, keseimbangan, kerja sama, dan semangat untuk bangkit ketika jatuh. Nilai-nilai seperti ini sangat penting untuk membangun karakter generasi muda Indonesia,” kata Nezar Patria.
Nezar juga menambahkan bahwa Tanoker telah berhasil menciptakan ekosistem sosial yang solid, yang tidak hanya menyentuh aspek budaya, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi dan pendidikan lokal.
Baca Juga: Gus Fawait Bakal Ngantor di Kecamatan! Pelayanan Publik di Jember Kini Diawasi Langsung Bupati!
Senada dengan hal itu, Pj Sekda Akhmad Helmi Luqman, memuji konsistensi Tanoker dalam menjaga api kebudayaan selama 14 tahun. Baginya, festival ini adalah benteng pertahanan jati diri bangsa.
"Di tengah geraknya arus globalisasi dan teknologi digital, ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu jati diri bangsa. Festival Egrang adalah wujud nyata bahwa tradisi tidak pernah kehilangan relevansinya,” kata Helmi.
Perjalanan Tanoker sendiri bukanlah proses instan. Suporahardjo, Penasihat Tanoker Ledokombo, mengenang bagaimana komunitas ini berawal dari inisiatif sederhana bersama anak-anak desa hingga sukses meraih penghargaan bergengsi Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) pada 2018.
Kunci keberhasilan ini, menurutnya, adalah kolaborasi lintas generasi dari anak-anak hingga lansia.
“Kami tumbuh bersama komunitas, bersama ibu-ibu, lansia, relawan, dan anak-anak muda. Festival ini bukan hanya milik Tanoker, tetapi milik masyarakat,” tambah Supo. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh