Radar Jember - Biji kopi yang dipetik warga tak hanya berakhir di cangkir-cangkir warung lokal, tetapi pernah berlayar ribuan kilometer hingga menembus pasar Mesir.
Di balik perjalanan itu, berdiri Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sidomulyo, Kecamatan Silo yang kini menjadi wajah baru kebangkitan ekonomi desa.
Koperasi ini bukan lahir dari ruang kosong. KDMP Sidomulyo merupakan transformasi dari koperasi produsen yang telah lebih dulu mengakar di tengah masyarakat.
Perubahan itu berlangsung pada Maret hingga April 2025, beriringan dengan program nasional penguatan koperasi desa.
Tak lama berselang, kiprahnya langsung mencuri perhatian hingga terpilih sebagai salah satu dari delapan koperasi desa percontohan tingkat nasional.
“Alhamdulillah pada Juli 2025, kami terpilih menjadi koperasi desa percontohan tingkat nasional,” ujar Kepala Desa Sidomulyo, Kamiludin.
Berbeda dari bayangan kebanyakan orang tentang koperasi desa yang identik dengan simpan pinjam semata, KDMP Sidomulyo tumbuh dengan enam unit usaha sekaligus. Mulai dari gerai sembako, pupuk bersubsidi, layanan simpan pinjam berbunga rendah, apotek desa, klinik kesehatan dasar, hingga sarana pertanian dan logistik hasil tani.
Semua unit itu lahir dari kebutuhan nyata warga, bukan sekadar menyalin konsep dari luar. Di sinilah koperasi benar-benar menjadi ruang ekonomi bersama, tempat warga menambatkan harapan sekaligus mencari solusi.
Puncak pembuktian datang pada akhir 2025. Sebanyak dua kontainer berisi sekitar 40 ton kopi berhasil dikirim ke Mesir.
Sebuah capaian yang membuat nama Sidomulyo melintasi batas desa, kabupaten, bahkan negara.
Meski ekspor kini terhenti akibat situasi geopolitik global, jejak itu sudah cukup menunjukkan bahwa desa mampu berbicara di pasar internasional.
Menariknya, seluruh capaian tersebut dibangun dari kekuatan swadaya anggota, tanpa bergantung penuh pada bantuan pemerintah.
Namun, Mas Kades, sapaan akrab Kamiludin, berharap ke depan anggaran untuk KDMP itu bisa tunai.
“Yang terpenting modalnya itu tunai, supaya bisa dikelola sesuai kearifan lokal. Kalau hanya terima barang, kami pesimis koperasi ini bisa berjalan maksimal,” harapnya.
Kini, di tengah kebijakan baru yang mewajibkan alokasi besar dana desa untuk koperasi, Sidomulyo justru dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan.
Ruang fiskal desa menyusut hingga sejumlah pembangunan infrastruktur harus tertunda.
Akan tetapi, bagi Kamiludin, koperasi tetap harus bertumbuh dengan cara yang sesuai karakter desa, bukan dipaksakan seragam.
Sebab setiap wilayah punya potensi sendiri, seperti Sidomulyo yang bertumpu pada kopi dari lereng Raung dan Gumitir.
Dari sanalah ia percaya, denyut ekonomi desa akan terus hidup. Tentu selama akar lokalnya tetap dijaga. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh