Radar Jember - Tanggung jawab ketua regu (karu) dalam penyelenggaraan ibadah haji tidak sekadar mengatur pergerakan jemaah.
Mereka juga dituntut sigap memantau kondisi anggota regunya selama menjalani seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Ketua Regu Kloter 92, Abdurrahman Imansyah, mengatakan karu memiliki peran penting sebagai penghubung antara jemaah dengan petugas haji.
Karena itu, komunikasi dan koordinasi harus terus berjalan selama pelaksanaan ibadah.
Menurut dia, Karu harus memastikan seluruh anggota dalam kondisi aman, terkendali, dan seluruh aktivitas berjalan lancar.
Terutama bagi jemaah lanjut usia maupun yang memiliki riwayat penyakit tertentu yang membutuhkan perhatian lebih.
“Tak hanya memastikan anggotanya aman, terkendali, dan lancar, ketua regu juga harus terus mengupdate kondisi kesehatan anggota kepada ketua kelompok, ketua kloter, hingga dokter yang bertugas dalam kloter,” ujarnya.
Ia menjelaskan, laporan kesehatan jemaah menjadi bagian penting dalam sistem pelayanan haji.
Dengan adanya laporan rutin dari ketua regu, petugas medis dapat lebih cepat mengambil langkah penanganan apabila ditemukan jemaah yang mulai mengalami gangguan kesehatan.
Selain itu, Karu juga diminta aktif berkomunikasi dengan pembimbing ibadah dan tenaga kesehatan.
Tujuannya agar setiap persoalan yang dialami jemaah dapat segera ditindaklanjuti tanpa menunggu kondisi semakin berat.
Karena itu, peran Karu dinilai sangat vital dalam menjaga kelancaran penyelenggaraan ibadah haji.
Tidak hanya menjadi pengatur rombongan, mereka juga menjadi ujung tombak pemantauan kondisi jemaah selama berada di Tanah Suci.
Baca Juga: Keistimewaan Air Zamzam bagi Jemaah Haji, Dari Kisah Nabi hingga Manfaat Kesehatan
“Semoga ini menjadi manifestasi ibadah tambahan selama melaksanakan haji di tanah suci,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh