Radar Jember - Autisme mengubah arah hidup Rizma Endah Susanti dan Herwindro Wicaksono.
Apa yang semula pasutri itu bayangkan sebagai perjalanan membesarkan anak seperti keluarga pada umumnya, berubah menjadi perjuangan panjang penuh air mata, kebingungan, dan pencarian tanpa henti.
Dari perjalanan itulah, lahir Yayasan Gapai Rizky Mulia (Garizmu), ruang yang kini menjadi tempat bernaung bagi banyak keluarga dengan anak berkebutuhan khusus di Jember.
Semua bermula dari putra sulung mereka, Rizky, yang didiagnosis autisme berat sejak usia 1,5 tahun.
Sebelum kepastian itu datang, keduanya lebih dulu dihadapkan rasa bingung karena melihat tumbuh kembang sang anak berbeda dari bayi seusianya.
Rizma masih mengingat betul masa-masa ketika ia terus bertanya pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“Awalnya saya bingung, kok anak saya beda sendiri, tapi belum tahu itu apa,” ujarnya.
Diagnosis itu tak hanya menghadirkan persoalan medis, tetapi juga tekanan sosial yang begitu kuat.
Rizma mengaku, sempat disalahkan banyak orang, mulai dari pola asuh hingga hal-hal yang tak masuk akal.
Bersama suaminya, ia bahkan sempat membawa Rizky ke luar negeri untuk mencari jawaban dan penanganan terbaik.
“Banyak yang menyalahkan, dari pola asuh sampai bedak saya. Tapi dari situ kami belajar, penerimaan adalah langkah pertama untuk terus bergerak,” tuturnya.
Perjalanan berikutnya jauh dari kata mudah. Mereka mencoba berbagai terapi, pengobatan medis, hingga alternatif di berbagai kota dengan biaya yang lumayan menguras kantong.
Ada masa ketika pengobatan menghabiskan ratusan juta rupiah dalam sebulan, tapi hasil yang diharapkan belum juga datang.
Sampai akhirnya mereka menyadari, perubahan kecil yang lahir dari terapi konsisten jauh lebih berarti dibanding harapan instan.
“Yang paling terasa itu terapi, bukan obat. Sedikit perubahan bagi kami itu sudah seperti keajaiban,” kata Rizma.
Dari pengalaman itulah Garizmu berdiri pada 2021. Awalnya, yayasan ini dibangun hanya untuk memenuhi kebutuhan terapi Rizky.
Namun perlahan, Rizma melihat banyak orang tua lain di Jember mengalami kebingungan yang sama seperti yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Selanjutnya, Garizmu berkembang menjadi ruang terapi, edukasi, sekaligus tempat saling menguatkan bagi para orang tua anak berkebutuhan khusus.
Bahkan, pihaknya beberapa kali menggelar pelatihan atau workshop untuk edukasi bagi orang tua.
Sebab, dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus diperlukan ada edukasi yang tepat dan penguatan mental.
“Banyak yang merasa sendirian. Lewat Garizmu kami ingin bilang bahwa mereka tidak sendiri,” ujarnya.
Di Garizmu, kata dia, yang dibangun bukan sekadar layanan terapi. Ada ruang berbagi cerita, konsultasi, dan penguatan mental bagi keluarga yang sedang berjuang menerima kondisi anaknya.
Sementara itu, Herwindro menyebut, yayasan itu adalah bentuk ikhtiar agar orang tua lain tidak perlu meraba-raba seperti yang mereka alami dulu.
“Kami ingin pengalaman pahit kami bisa jadi jalan terang bagi keluarga lain,” imbuhnya.
Bagi Rizma dan Herwindro, Garizmu bukan akhir dari perjuangan. Setiap hari, mereka masih hidup dengan kekhawatiran tentang masa depan Rizky.
Namun di balik kegelisahan itu, keduanya memilih terus menyalakan harapan. Sebab bagi mereka, menerima bukan berarti menyerah.
Justru dari penerimaan itulah lahir kekuatan untuk terus melangkah, menggandeng lebih banyak keluarga agar percaya bahwa di balik setiap keterbatasan, selalu ada peluang untuk tumbuh. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh