Radar Jember - Kekerasan terhadap anak, baik fisik maupun seksual, menyimpan bahaya laten yang jauh lebih dalam dari sekadar luka fisik.
Dampak psikologis jangka panjang mengintai para korban, yang jika diabaikan, dapat berakibat fatal.
Psikolog dari Biro Konsultasi Gemilang Psikologi Jember, Marisa Selvy Helphiana, menegaskan bahwa penanganan yang terlambat dapat membuat anak terjebak dalam gangguan kesehatan mental yang kronis.
Menurut Marisa, dampak psikologis yang paling jamak ditemui pada korban kekerasan adalah Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Kondisi ini bukan sekadar rasa sedih biasa, melainkan gangguan mental yang muncul setelah peristiwa traumatis.
“Anak dengan PTSD dapat mengalami kilas balik peristiwa traumatis hingga mimpi buruk yang berulang. Jika dibiarkan, kondisi ini akan merusak relasi anak dengan dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya,” jelas Marisa.
Bahaya terbesar muncul ketika PTSD berkembang menjadi depresi berat. Pada tahap ini, korban tidak hanya merasa tertekan, tetapi mulai kehilangan harapan hidup.
“Ketika sudah depresi, risikonya bisa lebih berat, seperti muncul keinginan melukai diri sendiri (self-harm) hingga upaya bunuh diri,” tegasnya.
Mengapa Korban Sering Terlambat Bicara?
Publik sering bertanya mengapa korban baru melapor setelah waktu yang lama. Marisa menjelaskan bahwa ada beban mental yang luar biasa besar, seperti rasa bersalah, malu, dan takut.
“Banyak korban merasa terhina atau dibungkam oleh ancaman. Mereka seringkali baru berani bersuara ketika melihat korban lain mulai bicara, atau saat mereka merasa telah memiliki kesiapan mental dan lingkungan yang aman,” tambahnya.
Marisa menghimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Berikut adalah beberapa sinyal waspada yang harus diperhatikan.
Sering mimpi buruk dan sulit tidur, perubahan emosi yang drastis (sering tantrum atau marah tiba-tiba), penurunan konsentrasi belajar di sekolah hingga menarik diri dari lingkungan sosial atau menjadi sangat pendiam.
“Pendampingan sejak dini adalah kunci agar trauma tidak menetap hingga dewasa. Esensinya adalah memberikan dukungan tanpa syarat agar anak merasa tidak sendirian dalam menghadapi traumanya,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh