Radar Jember – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kekeringan yang diprediksi terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala BPBD Jember, Edy Budi, menyampaikan bahwa pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah yang masuk kategori rawan.
Tercatat ada beberapa kecamatan yang masuk zona merah kekeringan, serta wilayah dengan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang cukup tinggi.
Sebanyak 6 wilayah teridentifikasi rawan bencana kekeringan, dan 2 wilayah memiliki potensi ancaman karhutla yang relatif tinggi.
“Pemetaan ini menjadi dasar kami untuk melakukan langkah antisipasi lebih awal,” ujarnya.
BPBD juga telah menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) penanganan kekeringan, mulai dari pelaporan cepat hingga distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak.
Berdasarkan rilis BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Dengan durasi yang cukup panjang dan potensi dampak yang besar, seluruh pihak diminta meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD bersama dinas terkait, Perhutani, dan BKSDA terus mendorong upaya pelestarian lingkungan serta pencegahan karhutla.
Masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan lereng hutan dan perbatasan, diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena berisiko menimbulkan kebakaran yang meluas,” tegasnya.
Selain itu, sistem peringatan dini juga telah diaktifkan. BPBD menginstruksikan seluruh camat untuk berkoordinasi dengan Kapolsek dan Danramil dalam memantau kondisi wilayah masing-masing.
Edy juga menyinggung kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana megathrust. Menurutnya, berbagai simulasi terus dilakukan guna memastikan kesiapan semua pihak.
“Kami selalu siaga. Simulasi terus dilakukan agar semua pihak tahu peran masing-masing jika bencana terjadi,” jelasnya. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh