Radar Jember - Saat terjadi bencana, ada orang-orang sigap 24 jam berada di garda terdepan. Seperti dua pentolan organ Relawan Gumitir dan Rock & Roll ini.
Meski usianya tak lagi muda, namun semangatnya mampu bersaing dengan yang muda-muda.
Tubuh tegak, kulit berwarna hitam legam, menjadi perawakan khas seseorang yang biasa melakukan kerja-kerja di lapangan, di bawah terik matahari, dinginnya malam, ataupun guyuran hujan.
Gaya bicaranya masih cukup lugas dan lantang, mengerang khas bapak-bapak lanjut usia.
Namun di balik tampilan fisik itu semua, nuraninya telah menembus batas-batas usia dan kepayahan. Hanya demi satu tujuan, membantu untuk sesama.
Mereka berprinsip, hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi bagaimana tetap bisa memberikan manfaat bagi sesama.
Dedikasi yang luar biasa melekat dalam sosok Muhammad Nurhadi, atau yang akrab disapa Cak Mat, dan Wawan Semut.
Keduanya adalah koordinator relawan dari komunitas Gumitir dan Rock and Roll, dua kelompok yang dedikasinya tak pernah surut demi kemanusiaan.
Di tengah pekatnya malam yang dingin di jalur Gumitir, saat sebagian besar orang terlelap dalam hangatnya selimut, mereka justru sedang terjaga.
Bagi mereka, suara gemuruh pohon tumbang atau jerit rem kendaraan yang gagal menanjak bukanlah sekadar musibah, tapi panggilan jiwa untuk segera bergegas.
"Bencana apa saja di Gumitir, kadang pohon tumbang, longsor, kendaraan nyungsep di Gumitir dan lainnya," kata Cak Mat, mengawali obrolan saat ditemui, Minggu (26/4).
Jalur Gumitir, yang membelah lebatnya hutan dan perkebunan, adalah urat nadi yang tak pernah berhenti berdenyut menghubungkan Kabupaten Jember dan Banyuwangi selama 24 jam. Jalan ini bukan sekadar lintasan, tapi medan tarung bagi para pengemudi.
Jalur berkelok yang menanjak dan menurun tajam, ditambah dengan topografi yang memecah hutan, menjadikan risiko bencana di sini sangat tinggi.
Tak heran, pemandangan kendaraan yang gagal menanjak, terguling, hingga masuk jurang, serta ancaman longsor dan pohon tumbang telah menjadi keseharian yang mencekam di jalur ini.
Komunitas Gumitir berdiri sejak 2018, Cak Mat dan timnya yang beranggotakan 10 orang, kerap menjadi garda terdepan saat bencana menghantam jalur Gumitir.
Sementara Wawan Semut bersama komunitas Rock and Roll yang terbentuk sejak 2019, juga kerap hadir sebagai bala bantuan ketika skala bencana melampaui kemampuan penanganan kecil.
"Ini bukan soal pengakuan," kata Wawan Semut dengan nada tenang. "Bekerja di malam hari, di bawah guyuran hujan, bagi kami tidak ada beban. Ini panggilan hati," imbuh dia.
Bagi Cak Mat, relawan bukan sekadar hobi, tapi kesadaran kolektif yang tumbuh dari keprihatinan terhadap lingkungan. Meski mereka sering tak dianggap oleh pemangku kebijakan wilayah, tekad mereka tidak goyah.
"Kami hanya ingin membantu. Meskipun malam, meskipun apa, kami tidak butuh pengakuan," tambah Wawan.
Kini, di usia yang rata-rata telah menginjak 55 tahun ke atas, semangat mereka justru tak tampak menua.
Mereka adalah penjaga tak terlihat di jalur maut Gumitir, yang terus merawat kemanusiaan dan mengingatkan kita untuk tetap menjaga alam, sebelum alam benar-benar kehilangan kemampuannya untuk melindungi kita.
"Yah semoga yang muda-muda bisa lebih semangat dan masyarakat luas bisa terketuk untuk senantiasa menjaga alam kita, dan berhati-hati ketika di jalan," pungkas mereka. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh