Radar Jember - Toples kosong itu tersusun rapi di atas almari. Dulu isinya bukan kue, melainkan uang receh. Ingatan itu masih ada di Imam Syafii.
Sebab, dia berangkat haji tahun ini dari uang receh yang dikumpulkan di toples tersebut. “Oh toples ini dulu tempat menyimpang uang untuk haji,” ungkap Imam Syafii.
Sehari-hari, warga Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari itu bekerja sebagai tukang bangunan. Penghasilannya tak menentu, bahkan sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Penyegaran Kejati Jatim, Yadyn Resmi Pimpin Kejari Jember
Namun, di tengah keterbatasan itu, ia tetap menyisihkan sebagian kecil rezekinya. Kebiasaan menabung koin. Dari pecahan Rp 200, Rp 500, hingga Rp 1.000. Sudah ia jalani selama belasan tahun.
Tanpa target pasti, tanpa kepastian kapan akan terkumpul cukup biaya, Imam tetap konsisten menabung uang receh. Perjalanan itu tentu tidak mudah.
Ia sempat merasa ragu dengan kemampuannya sendiri, keinginan untuk berhaji pernah terasa begitu jauh, bahkan nyaris mustahil terwujud mengingat kondisi ekonominya. “Terpenting niat dulu,” katanya.
Pada tahun 2012, uang sekitar Rp 25 juta yang telah ia kumpulkan awalnya hendak digunakan untuk merantau ke luar Pulau Jawa. Ia berharap bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
“Awalnya Rp 25 juta saya mau merantau ke luar Jawa, apalagi dahulu kondisi ekonomi saya seperti mustahil bisa haji.
Baca Juga: Diduga Epilepsi Kambuh, Warga Garahan Jember Hilang Saat Mandi
Namun, dia tetap memilih untuk bekerja ke Jember dan uang Rp 25 juta itu untuk daftar haji. Momen tak terlupakan terjadi saat ia menyetorkan tabungan ke bank.
Beberapa toples besar berisi uang koin ia bawa. Jumlahnya yang tak sedikit membuat petugas sempat terkejut.
Dengan pendampingan dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) setempat, proses setoran itu akhirnya berjalan lancar.
Ia memilih menabung dengan koin bukan tanpa alasan, pengalaman pahit pernah dialami ketika uang kertasnya rusak dimakan rayap.
Sejak itu, ia merasa uang logam lebih aman sekaligus menjadi simbol kesabarannya. Kini, perjuangan panjang itu berbuah manis. Imam dijadwalkan berangkat pada 13 Mei menuju embarkasi Surabaya.
Baca Juga: Api Diduga dari Stop Kontak, Rumah Makan Es Shanghai di Jember Ludes Terbakar
Ketekunannya tak hanya mengantarkannya ke Tanah Suci, tetapi juga menginspirasi sang istri untuk ikut mendaftar haji. Sayangnya, dia tidak bisa berangkat haji bersama istrinya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh