Radar Jember - Jembatan gantung penghubung Dusun Darungan Selatan dengan Darungan Utara di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, yang putus akibat banjir akhirnya mulai ditangani lebih serius.
Akses utama warga yang selama ini terputus membuat aktivitas harian tersendat.
Warga yang biasanya hanya menyeberang sebentar kini harus memutar cukup jauh. Bahkan, sebagian nekat menggunakan getek demi tetap bisa beraktivitas.
Jembatan yang dikenal sebagai Jembatan Darus itu sudah dua kali putus dalam waktu berdekatan.
Baca Juga: Jangan Menunggu Menjamur Baru Ditertibkan, PKL Kaliputih Jember Kembali Berjualan setelah Dibongkar
Pertama pada Desember 2025 saat Sungai Bedadung meluap, lalu sempat diperbaiki secara swadaya oleh warga agar bisa dilalui kembali.
Namun belum lama digunakan, pada Februari lalu jembatan itu kembali putus diterjang banjir.
Sejak saat itu, akses vital yang menghubungkan aktivitas warga sehari-hari praktis terhenti.
Dampaknya terasa nyata. Warga yang hendak bekerja atau mengantar anak sekolah harus mengambil jalur lebih jauh dan memakan waktu lebih lama.
Baca Juga: Fungsikan JPO Jompo Jember! Banyak yang Nekat Menyebrang Langsung
Anak-anak sekolah bahkan ada yang berangkat dengan menyeberang menggunakan getek. Kondisi ini jadi lebih berat dan berisiko.
Melihat situasi tersebut, tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akhirnya turun langsung ke lokasi pada Kamis (23/4).
Peninjauan dipimpin Kepala Bidang Pembangunan Jalan Balai Besar Penanganan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali, Andre Saha Tua Sirait.
Andre mengatakan, peninjauan ini untuk memastikan langkah penanganan yang tepat. Ia menegaskan, pemerintah tidak ingin kondisi ini berlarut-larut.
“Ini sudah menjadi perhatian pimpinan. Kami diminta turun langsung, mengecek kondisi di lapangan, dan memastikan jembatan ini bisa segera difungsikan kembali agar masyarakat bisa beraktivitas normal seperti sebelumnya,” ujarnya.
Baca Juga: Lampu Hias Ini Dibiarkan Rusak, Sisa Jember di Awal Melenium?
Langkah awal yang dilakukan saat ini adalah pembersihan material sisa banjir serta sedimentasi yang menumpuk di sekitar lokasi.
Setelah itu, tim akan melakukan kajian teknis untuk menentukan apakah jembatan masih bisa diperbaiki atau harus dibangun ulang.
Jika diperlukan, pemerintah akan membangun jembatan perintis sebagai solusi sementara agar akses warga bisa segera pulih.
“Kami masih mendiskusikan opsi terbaik. Kalau struktur masih memungkinkan akan kami perbaiki. Tapi kalau tidak, jembatan perintis akan kami siapkan agar akses warga tidak terlalu lama terputus,” jelasnya.
Untuk jangka panjang, pembangunan jembatan permanen juga sudah mulai direncanakan, termasuk opsi jembatan gantung.
Meski membutuhkan waktu, pemerintah menargetkan pengerjaan fisik awal bisa dimulai dalam dua hingga tiga minggu ke depan setelah keputusan teknis ditetapkan.
Menanggapi itu, Sekretaris Kecamatan Sukorambi, Josias Anto Budi Nugroho, menyambut baik langkah tersebut. Ia menilai, keberadaan jembatan memang dibutuhkan masyarakat.
“Percepatan ini memang sangat dinantikan masyarakat. Karena jalur ini adalah akses utama yang setiap hari digunakan untuk bekerja, sekolah, dan aktivitas lainnya,” katanya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh