Radar Jember - Kelangkaan gas elpiji bersubsidi berukuran 3 kilogram yang belakangan ini melanda berbagai daerah di Jember, mulai terungkap penyebabnya.
Pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Jember, telah mengendus biang kerok kelangkaan gas melon ini bukan karena kekurangan stok, tapi karena salah sasaran.
Kepala Diskopukmdag Jember Sartini mengemukakan, berdasarkan temuan tim monitoring dan evaluasi (monev) yang melibatkan instansi terkait, kelangkaan dipicu oleh salah sasaran penggunaan gas bersubsidi.
Baca Juga: Ini Jadwal Lengkap Operasi Gas LPG Murah di Kantor Kecamatan se-Jember
Pihaknya mendapati banyak pelaku usaha, mulai dari jasa laundry hingga pengelola kafe dan hotel, kedapatan menggunakan gas elpiji 3 kilogram. Padahal, seharusnya gas dengan tabung berwarna hijau itu dikhususkan bagi masyarakat miskin.
"Ketika Tim Monev Jatim bersama kami turun, ada laundry ternyata memakai gas elpiji 3 kilo untuk pengeringnya, kafe juga pakai. Bahkan salah satu hotel, ternyata juga pakai gas elpiji 3 kilo untuk pemanasnya," katanya, saat ditemui di gerakan Pasar Murah Gas Elpiji 3 kilo, di Kantor Kecamatan Sukorambi, Jember (23/4).
Sartini mengaku tidak habis pikir. Karena menurutnya, setiap pelaku usaha itu diwajibkan menggunakan gas elpiji pink (bright gas) berukuran 5,5 atau 12 kilogram. Bukan gas melon bertuliskan "Untuk Masyarakat Miskin" tersebut.
"Padahal sudah jelas, di tabung ini (elpiji 3 kilogram, Red) tertera untuk masyarakat miskin dan keperuntukannya adalah untuk masyarakat yang memang harusnya sesuai dengan sasaran gas LPG 3 kilo itu sendiri," ketusnya.
Di waktu yang sama, ia juga mengemukakan bahwa operasi pasar murah gas elpiji saat itu dilangsungkan serentak di 31 kecamatan di Jember. Harga yang dibanderol sesuai HET Rp 18 ribu per tabung. Padahal, harga di pedagang eceran bisa mencapai Rp 23-25 per tabung.
Sejak dibuka mulai pagi, saat itu, warga sudah antusias datang ke pendapa kecamatan demi giliran mendapat jatah. Sedikitnya, 300 tabung gas elpiji 3 kilo disiapkan untuk setiap kecamatan.
Pemerintah daerah menggandeng agen-agen resmi Pertamina dan Hiswana Migas untuk memastikan gerakan ini hingga 4 Mei mendatang.
Masyarakat dapat membeli gas elpiji ini dengan membawa KK atau KTP, dengan ketentuan satu tabung untuk satu kepala keluarga. Sartini memastikan pihaknya bakal memperketat pengawasan di tiap kecamatan dengan melibatkan Muspika setempat.
"Gas elpiji 3 kilogram ini adalah hak masyarakat miskin. Sangat disayangkan jika masih banyak pihak yang tidak berhak menggunakannya. Pengawasan akan kami perketat dengan melibatkan pihak Polsek, Koramil, hingga Satpol PP. Masyarakat yang membeli wajib membawa KK dan KTP asli," tambah Sartini.
Camat Sukorambi, Musyaffa, merespon baik gerakan pasar murah gas melon itu. Menurut dia, geraka pasar murah serentak ini cukup menjawab keluhan masyarakat yang belakangan kesulitan memperoleh gas melon tersebut.
Baca Juga: Akhirnya Warga Dusun di Jember Ini Bisa Tenang, Aliran Sungai Baru Ditutup Tuntas Ditutup
"Kami berharap masyarakat bisa lebih bijak menggunakan gas bersubsidi ini, sehingga kedepannya tidak perlu ada kelangkaan lagi," imbuh dia.
Digelontor 9.300 Tabung
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, Pasar Murah LPG 3 kilogram ini sebagai supaya memastikan kebutuhan energi tetap terpenuhi. Sekaligus menormalkan distribusi yang sempat menjadi sorotan selama April 2026.
Setiap kecamatan diberi jatah 300 tabung, maka bila ditotal ada 9.300 tahung gas 3 kilogram. Pihaknya melakukan berbagai langkah mitigasi, mulai dari pengecekan distribusi hingga penambahan pasokan.
“Penyaluran berjalan normal dari SPPBE hingga pangkalan. Kami juga melakukan penyaluran tambahan dan operasi pasar untuk memastikan distribusi kembali normal,” ujarnya.
Ke depan, operasi pasar akan digelar secara beruntun di 31 kecamatan hingga awal Mei 2026. Pertamina juga mengingatkan masyarakat untuk membeli LPG di pangkalan resmi agar harga tetap sesuai HET dan kualitas terjamin.
Selain itu, pengawasan terhadap agen dan pangkalan terus diperketat agar penyaluran tepat sasaran. “Jika ada pelanggaran, maka sanksinya tegas. Kami ingin memastikan LPG subsidi benar-benar diterima oleh yang berhak,” tegasnya. (mau/kin/dwi)
Mengapa Gas Melon Langka di Jember?
- Salah sasaran penggunaan
- Dipakai jasa laundry, kafe, hingga hotel
Solusi Pasar Murah Serentak
- Jangkau 31 Kecamatan se- Jember
- Dimulai 23 April sampai 4 Mei 2026
- Kuota 300 tabung per kecamatan
- Mensyaratkan pembelian dengan KK/KK
- Peruntukan 1 KK untuk 1 tabung
- Dibanderol Rp 18 ribu/tabung
*Grafis: Maulana/Radar Jember