Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Mentalitas Kartini Modern: Menolak Jadi Objek dengan Revolusi ‘Self-Defense’

Maulana RJ • Rabu, 22 April 2026 | 18:30 WIB
Komisioner Bawaslu Jember, sekaligus pendiri Sekolah Perempuan Jember, Wiwin Riza Kurnia. (Dok. Wiwin RK)
Komisioner Bawaslu Jember, sekaligus pendiri Sekolah Perempuan Jember, Wiwin Riza Kurnia. (Dok. Wiwin RK)

Radar Jember - Peringatan Hari Kartini tahun ini, Selasa (21/4/2026), membawa pesan yang jauh lebih menantang. Di tengah ambisi Indonesia Emas 2045, posisi dan keterlibatan perempuan di ruang publik dinilai perlu terus disuarakan.

Wiwin Riza Kurnia, Komisioner Bawaslu Jember sekaligus pendiri Sekolah Perempuan Jember, menilai narasi yang kerap menstigma perempuan dalam hegemoni patriarkis, harus segera ditinggalkan.

Baca Juga: Inspirasi Kartini dari Jember: Ning Ghyta Ajak Perempuan Berani Bermimpi dan Bergerak Nyata

Ia menyerukan revolusi pola pikir bagi seluruh perempuan Indonesia, beralih dari victim mentality (mentalitas korban) menuju self-defense mentality (mentalitas pertahanan diri) yang holistik.

"Kartini zaman dulu menggunakan tinta dan akal sebagai intellectual self-defense untuk melawan. Sekarang, kita butuh pertahanan diri yang mencakup aspek psikologis, digital, dan politik," kata Wiwin.

Menurut dia, perempuan yang vokal kini menghadapi serangan berlapis, mulai dari pelecehan siber, fitnah deepfake, hingga dilabeli sosok emosional. 

Baca Juga: Gandeng Guru Besar UGM! Bupati Gus Fawait Rombak Total Tata Kelola Anggaran Jember Agar Lebih Berdampak Nyata!

Apalagi, kuota 30 persen perempuan di parlemen saat ini, dinilai masih sekadar angka kosmetik. "Ini menciptakan ilusi kesetaraan. Pintu dibuka, tapi lorong menuju ruang rapat utama masih penuh hambatan struktural," urai dia.

Wiwin mengajak perempuan memiliki pilar pertahanan diri yang terdiri dari mental Self-defense, literasi Digital Self-Defense, dan keberanian Political Self-Defense

Ia juga menyerukan perempuan untuk berhenti menjadi objek narasi dan mulai menjadi penulis narasi itu sendiri.

"Demokrasi yang sehat tidak boleh hanya milik laki-laki. Saatnya perempuan Indonesia tidak lagi pasif, tapi menjadi kekuatan yang tangguh dalam merumuskan masa depan bangsa," pungkas Wiwin.

Editor : Maulana RJ
#RA Kartini #Jember #perempuan indonesia #emansipasi #hari kartini