Radar Jember - Bau menyengat dari tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) kini menjadi salam pagi bagi sebagian warga Jember.
Lokasinya yang kian mendekat ke permukiman membuat persoalan tak lagi sekadar urusan kebersihan, tetapi sudah menyentuh kenyamanan hingga kesehatan lingkungan.
Kondisi itu mempertegas perlunya percepatan pembenahan di level hulu. Di tengah dorongan pengelolaan mandiri, keberadaan TPS Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) justru masih terbatas.
Saat ini, fasilitas pengolahan milik pemda yang benar-benar beroperasi baru satu, yakni TPS3R Baratan.
Aktivis lingkungan dari Lembaga Edukasi Lingkungan dan Pengelolaan Sampah Sobung Sarka, Nurul Hidayah, menyebut kondisi ini sebagai persoalan serius yang tidak bisa ditunda.
Ia menilai perhatian pemerintah selama ini masih lebih banyak tertuju pada TPA ketimbang TPS.
Menurutnya situasi semakin kompleks setelah terbitnya surat Menteri Lingkungan Hidup tentang rencana penghentian sistem open dumping di TPA Pakusari.
Kebijakan itu memaksa pemerintah daerah bergerak cepat, namun kesiapan di tingkat bawah belum sepenuhnya mendukung.
“Dinas akhirnya mengeluarkan surat edaran yang ditandatangani bupati tentang kebijakan dan strategi pengolahan sampah mandiri. Tapi implementasinya perlu dikawal serius,” ujarnya.
Di sisi lain, kondisi TPA Pakusari sudah over kapasitas dengan ketinggian timbunan mencapai sekitar 36 meter.
Rencana pengalihan fungsi menjadi TPS Terpadu (TPST) yang hanya menerima residu mulai disiapkan.
Namun, Cak Oyong, sapaan akrab Nurul hidayah, menegaskan pembenahan di hilir tidak akan efektif tanpa perbaikan di hulu.
TPS dan masyarakat sebagai titik awal pengelolaan harus menjadi prioritas, termasuk melalui penambahan TPS3R dan penguatan fasilitas pemilahan.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi pengolahan sampah organik yang porsinya mencapai lebih dari separuh total sampah.
“Dengan pengolahan mandiri di tingkat rumah tangga, tekanan terhadap TPS bisa berkurang, sekaligus mencegah persoalan sampah terus berulang tanpa solusi nyata,” pungkas Cak Oyong yang juga Kordinator TPS3R Baratan. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh