Radar Jember - Persoalan sampah di Jember dinilai tidak bisa terus-menerus diselesaikan dari hilir.
Pembenahan justru harus dimulai dari hulu, terutama dari kebiasaan masyarakat dan pengelolaan di tingkat tempat penampungan sementara (TPS).
Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Unmuh Jember, Dr Latifa Mirzatika Al-Rosyid, menegaskan bahwa perubahan perilaku menjadi kunci utama.
Tanpa itu, berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hanya akan berujung pada penumpukan masalah yang sama.
Menurutnya, selama ini masyarakat masih terbiasa membuang sampah tanpa pemilahan.
Kondisi tersebut diperparah dengan pengelolaan di TPS yang belum optimal, sehingga sampah bercampur dan sulit diolah lebih lanjut.
Ia menilai, tren kenaikan harga plastik saat ini justru bisa menjadi momentum untuk berbenah.
Masyarakat didorong mulai mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai dan beralih ke kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.
“Ini kesempatan yang bagus untuk mengubah pola konsumsi. Ketika plastik semakin mahal, masyarakat bisa mulai membawa tas belanja sendiri atau menggunakan ulang kemasan yang ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan plastik yang masif selama ini telah menimbulkan persoalan lingkungan serius.
“Sampah plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai, sehingga terus menumpuk dan mencemari lingkungan,” imbuhnya.
Tak hanya itu, plastik juga berpotensi terpecah menjadi mikroplastik yang masuk ke dalam rantai makanan manusia.
Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. Ia menambahkan, dampak ekonomi juga tak bisa diabaikan.
Sampah plastik yang menyumbat saluran air dapat memicu banjir, merusak ekosistem laut, hingga menurunkan pendapatan nelayan akibat berkurangnya hasil tangkapan.
Karena itu, pembenahan dari hulu hingga TPS harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh