Radar Jember – Ambruknya jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Darungan Selatan dan Darungan Utara, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, mulai berdampak luas bagi warga.
Selain mengganggu aktivitas ekonomi, kondisi ini juga dikhawatirkan memicu anak putus sekolah.
Hingga kini, jembatan yang menjadi akses utama warga tersebut masih dibiarkan dalam kondisi rusak.
Padahal, jembatan sepanjang 105 meter dengan lebar 1,5 meter itu sangat vital bagi mobilitas warga lintas kecamatan.
Baca Juga: Cetak Prestasi Gemilang, Polije Borong Penghargaan dari KPPN Jember
Koordinator Wong Ajung Peduli, Akbharul Khoir, mengatakan, keberadaan jembatan tersebut tidak hanya digunakan warga Desa Jubung dan Ajung.
Namun, juga menjadi akses alternatif bagi warga dari wilayah lain karena dinilai lebih dekat.
Dampak putusnya jembatan mulai dirasakan masyarakat, terutama para pekerja.
Sejumlah warga yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Perumahan Griya Mangli Indah (GMI) memilih berhenti karena akses menuju tempat kerja menjadi jauh.
Baca Juga: Tanpa BBM Sehari, UIN KHAS Jember Uji Gaya Hidup Hemat Energi
“Kalau masih ada jembatan, mereka bisa jalan kaki. Sekarang harus memutar cukup jauh, sehingga banyak yang memilih berhenti bekerja. Apalagi, mereka yang sebagai pembantu itu tidak punya kendaraan,” jelasnya.
Kondisi ini juga memicu kekhawatiran terhadap anak-anak sekolah. Bagi keluarga yang tidak memiliki kendaraan, anak-anak terpaksa menyeberangi Sungai Bedadung menggunakan rakit atau getek, yang cukup berisiko.
Warga khawatir kondisi tersebut dapat menurunkan minat sekolah hingga memicu putus sekolah. “Khawatir saya, anak tidak semangat lagi berangkat sekolah dan berdampak tidak mau sekolah hingga putus sekolah,” paparnya.
Sementara itu, Hairiyah (60), warga Dusun Darungan Selatan, mengaku terpaksa berhenti bekerja sebagai asisten rumah tangga di Perum GMI setelah jembatan kembali putus.
“Dulu masih bisa jalan kaki lewat jembatan. Sekarang jauh kalau harus memutar, jadi saya pilih berhenti dan cari kerja dekat rumah,” ujarnya. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh