Radar Jember - Pagi kemarin (15/4), sejumlah anak-anak berseragam SD dan TK tampak menyusuri jalan menurun di antara pepohonan bambu bantaran Sungai Bedadung, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi.
Di hadapan mereka, bukan gerbang sekolah yang menyambut. Melainkan aliran sungai yang harus diseberangi.
Satu per satu, anak-anak itu naik ke atas getek bambu. Rakit sederhana buatan warga. Tanpa mesin, tanpa pelampung. Pemandangan seperti ini mungkin lazim di daerah terpencil.
Namun, ini terjadi di Jember, tepatnya di Desa Jubung Kecamatan Sukorambi. Desa yang juga dilewati jalan nasional Jember – Surabaya.
Sejak jembatan gantung penghubung Dusun Darungan Selatan dan Darungan Utara, Desa Jubung, putus pada Februari 2026, rutinitas anak-anak berubah drastis. Sekolah bukan lagi sekadar belajar, tapi juga perjalanan yang penuh risiko.
Padahal, jembatan itu baru saja diperbaiki warga secara swadaya pada Januari 2026. Harapan sempat terbangun, sebelum akhirnya kembali runtuh diterjang banjir.
Diketahui, jembatan gantung itu yang pertama kali diresmikan pada 2005. Putusnya jembatan memaksa masyarakat memutar melalui jalur lain yang lebih jauh.
Padahal, jembatan tersebut menjadi jalur utama bagi orang tua yang mengantar anak ke sekolah seperti SDN Jubung 01, SDN Jubung 02, TK Budi Utomo, hingga SMKN 5 Jember, serta warga yang berangkat bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Kini, demi memangkas jarak, warga berinisiatif membuat getek dari bambu. Rakit sederhana itu dibuat oleh Muhammad Soleh (38), warga Dusun Darungan Utara, menggunakan 14 batang bambu sepanjang sekitar 6 meter yang dirakit dan diberi alas anyaman.
Getek itu menjadi “jembatan darurat” bagi setidaknya enam siswa TK dan SD yang setiap hari menyeberang untuk bersekolah. Meski lebih dekat, perjalanan mereka belum sepenuhnya mudah.
Setelah menyeberang, anak-anak masih harus berjalan kaki melewati jalan setapak yang licin, terutama saat hujan.
Rano, siswa kelas IV SDN Jubung 02, mengaku terbantu dengan adanya getek, meski harus berangkat lebih pagi. “Kalau bisa, jembatannya segera dibangun lagi supaya tidak terus naik getek,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Hotimah 36, warga setempat, yang setiap hari mengantar anaknya ke TK dengan getek.
Baca Juga: Target Zero Kemiskinan! Gus Fawait Siapkan Strategi Khusus Berdayakan Warga Pelosok Hutan Jember!
Menurutnya, jalur alternatif menggunakan sepeda motor terlalu jauh dan membutuhkan biaya lebih. “Lebih dekat naik getek, meski harus hati-hati,” katanya.
Koordinator Wong Ajung Peduli, Akbharul Khoir, menilai kondisi ini menjadi ironi di tengah pembangunan. Ia menyebut warga tanpa kendaraan menjadi pihak paling terdampak. “Kalau hanya survei tanpa tindak lanjut, kasihan warga yang setiap hari bergantung pada jembatan itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, perbaikan sebelumnya murni dilakukan warga tanpa bantuan pemerintah. Bahkan kini, warga masih siap bergotong royong jika perbaikan kembali diserahkan kepada masyarakat.
Jembatan gantung sepanjang 105 meter itu diketahui telah dua kali putus akibat banjir. Hingga kini, warga masih menunggu kepastian pembangunan kembali.
Pemandangan ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, melainkan penopang utama akses pendidikan.
“Ya kalau memang diserahkan ke warga untuk perbaikannya, saya bersama warga masih siap untuk memperbaiki lagi dengan gotong royong. Kasihan warga Jubung dan warga dari lain kecamatan lainya. Karena bukan hanya warga Jubung saja yang lewat. Karena jembatan itu juga menghubungkan Kecamatan Ajung, Rambipuji, dan Sukorambi,” pungkasnya. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh