Radar Jember - Demam tinggi yang tak kunjung turun, disusul batuk, pilek, hingga ruam kemerahan, membuat seorang ibu di Kecamatan Tempurejo mengisolasi anaknya saat Lebaran Idul Fitri. Ini dilakukan karena gejalanya mengarah pada campak.
Pintu kamar itu nyaris tak pernah terbuka selama beberapa hari terakhir. Dari dalam, hanya terdengar batuk kecil dan suara seorang ibu yang sesekali menenangkan anaknya. Di ruang itulah, ia merawat sang buah hati yang jatuh sakit, tepat di tengah suasana Lebaran.
Anaknya lebih banyak terbaring, demam tinggi sempat membuat tubuhnya lemas, bahkan beberapa kali terbangun di malam hari. Sang ibu setia di samping, mengecek suhu dan mengompres kening. “Awalnya cuma panas biasa, saya kira tidak apa-apa,” ujar perempuan yang enggan disebut namanya.
Namun, gejala perlahan bertambah. Batuk dan pilek muncul, disusul mata yang tampak merah berair. Nafsu makan menurun, anaknya pun lebih sering diam. Ia sempat mencoba perawatan seadanya di rumah, memastikan istirahat cukup dan cairan terpenuhi.
Kekhawatiran muncul saat bintik kemerahan terlihat di wajah. Dalam waktu singkat, ruam menyebar ke leher dan tubuh.
Ia pun membawa anaknya ke fasilitas kesehatan. Dari pemeriksaan, gejala disebut mengarah pada campak, meski belum dipastikan.
Sepulang dari sana, ia langsung mengambil langkah. Anak diisolasi di kamar, interaksi dibatasi, dan peralatan makan dipisahkan.
Keputusan itu diambil karena khawatir penularan, apalagi bertepatan dengan Lebaran. “Biasanya rumah ramai, tapi sekarang saya minta keluarga tidak berkunjung dulu,” katanya.
Baca Juga: Syarat Berat Jadi Direktur BUMD Jember: Pengalaman Manajerial 5 Tahun dan Bebas Politik
Hari-hari berikutnya dihabiskan di dalam kamar itu. Ia rutin memberi obat, memantau kondisi, dan membujuk anaknya agar mau makan. Hingga perlahan kondisi membaik, suhu tubuh mulai turun, ruam memudar, dan nafsu makan kembali.
Meski belum ada kepastian apakah itu campak atau bukan, ia bersyukur anaknya berangsur pulih. Baginya, mengisolasi anak saat Lebaran adalah pilihan paling aman demi mencegah penularan.
Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSU Universitas Muhammadiyah Jember, dr Fiqi Isnaini Nurul Hikmah SpA menjelaskan, Selama masa sakit, pasien dianjurkan menempati kamar terpisah dengan ventilasi yang baik.
Penggunaan alat makan, handuk, maupun perlengkapan pribadi juga sebaiknya tidak digunakan bersama untuk menghindari paparan virus.
Selain isolasi, anggota keluarga lain dianjurkan menggunakan masker saat harus berinteraksi dengan pasien, serta rutin mencuci tangan setelah kontak. Orang tua juga diminta membatasi kunjungan kerabat ke rumah hingga pasien benar-benar pulih.
Fiqi menambahkan, masa penularan campak berlangsung sejak beberapa hari sebelum ruam muncul hingga beberapa hari setelahnya. Karena itu, kewaspadaan perlu dilakukan meskipun gejala awal terlihat seperti flu biasa.
“Langkah kecil seperti isolasi, sementara dapat melindungi anggota keluarga lain, terutama bayi dan anak yang belum memiliki kekebalan optimal,” pungkasnya. (nur)
Editor : Imron Hidayatullahh