Radar Jember - Pagi kemarin di toko plastik Jalan Trunojoyo, tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pembeli datang dan pergi. Namun, sesekali mereka datang dan sedikit mengeluh.
Wajahnya yang awalnya datar berubah merengut setelah tahu harga kota plastik thinwall naik Rp 5.000. “Thinwall per pack isi 25 kotak, harganya Rp 15 ribu dulu Rp 10 ribu,” ucap Meliana, pejaga toko plastik di Jalan Trunojoyo itu.
Menurut Meliana, semua jenis plastik naik, termasuk styrofoam. “Untuk produk plastik ukuran umum, kenaikan berkisar Rp 2.000 sampai Rp3.000 per pak hampir di semua jenis. Kenaikan paling mahal itu thinwall,” terangnya.
Baca Juga: Jembatan Glundengan Jenggawah Jember Akhirnya Tuntas Diperbaiki, Begini Kondisi Terbarunya
Mistina, pelaku UMKM di Jember, mengaku tidak bisa lepas dari penggunaan plastik untuk usahanya. Hampir seluruh dagangannya membutuhkan kemasan tersebut agar bisa dibawa pelanggan. “Sudah jadi kebutuhan, karena plastik itu wadah utama untuk jualan,” ujarnya.
Ia menyebut, meski harga plastik naik, penggunaan tidak bisa dikurangi secara drastis. Tanpa kemasan yang layak, produk justru berisiko tidak laku karena dianggap kurang praktis oleh pembeli.
Hal serupa juga dirasakan konsumen. Diana, menilai plastik masih menjadi pilihan paling nyaman saat membeli makanan atau barang tertentu. “Lebih mudah dan fleksibel pakai plastik, apalagi untuk makanan basah atau yang berbau,” katanya.
Menurutnya, penggunaan plastik membantu menjaga kualitas barang saat dibawa pulang. Jika dicampur dalam satu tas tanpa pembungkus, maka aroma dan tekstur makanan bisa berubah. “Kalau ditumpuk jadi satu, nanti aromanya tercampur dan teksturnya bisa berubah,” imbuhnya.
Baca Juga: Jalan Alternatif juga Diuruk, Ini Kondisi Arus Lalin di Wuluhan Jember
Sementara, Anis pedagang es mengaku, plastik memang tidak tergantikan untuk para pelaku UMKM. “Harga barangnya sudah murah, kalau plastik naik pasti terasa,” paparnya.
Dia mengaku, sebelum harga plastik naik, beberapa konsumen sadar tidak memakai plastik. “Kadang tidak mau diberi kantong plastik konsumen itu. Rata-rata anak muda,” ungkapnya.
Sedangkan menurut, Nazila Ulfa, pelaku usaha harus ditertibkan juga agar tidak berlebihan memakai plastik.
“Bukan UMKM yang disadarkan atau ditertibkan. Bukan pedagang es teh Rp 3 ribuan. Tapi kafe-kafe yang menjual minuman Rp 20-30 ribu ke atas. Mereka harus memakai gelas non plastik ke konsumennya yang tidak take away,” paparnya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh