Radar Jember – Suasana berbeda terlihat di salah satu ruang kelas SMPN 5 Silo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Selasa (7/4).
Sekolah yang berada di Dusun Gumitir yang berbartasan langsung dengan Banyuwangi tersebut, tampak ada ruangan yang pintunya tertutup rapat. Di dinding tertempel tulisan “harap tenang, sedang ada ujian”.
Di dalamnya, hanya ada satu pengawas dan tiga siswa yang duduk berjajar, fokus menatap layar laptop di hadapan masing-masing.
Mereka tengah mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) hari kedua. Ketiga siswa kelas IX tersebut tampak serius mengerjakan soal demi soal. Meski berada di sekolah yang cukup terpencil, pelaksanaan ujian tetap berjalan lancar.
SMPN 5 Silo sendiri berada di wilayah perkebunan, tepatnya di Dusun Gumitir, Desa Sidomulyo.
Lokasinya sekolahnya masuk sekitar 3 kilometer dari jalan nasional penghubung Jember–Banyuwangi, dengan akses jalan yang sebagian berupa paving dan makadam.
Jalannya juga licin saat hujan turun. Jarak dari pusat Kota Jember sekitar 42 kilometer.
Baca Juga: Hari Pertama TKA SMP di Jember Diwarnai Insiden Listrik Jeglek! Begini Nasib Puluhan Siswa ?
Kepala SMPN 5 Silo, Syaiful, mengatakan pelaksanaan TKA mandiri di sekolahnya dapat berjalan karena dukungan jaringan internet yang memadai.
“Alhamdulillah, meskipun berada di wilayah perkebunan, internet di sini cukup baik. Sehingga tiga siswa kami bisa mengikuti TKA di sekolah sendiri dengan lancar hingga hari kedua,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar siswa di sekolah tersebut merupakan anak-anak karyawan perkebunan PTP Nusantara I Rayon 5 Kebun Gunung Gumitir. Saat ini, total siswa di SMPN 5 Silo hanya berjumlah 14 orang.
Meski jumlah siswa terbatas, pelaksanaan ujian berbasis komputer seperti ANBK maupun TKA tetap rutin dilaksanakan setiap tahun.
Syaiful juga mengungkapkan tantangan tersendiri bagi para guru. Jarak tempat tinggal yang jauh membuat mereka harus menempuh perjalanan panjang setiap hari.
“Saya sendiri dari Desa Pontang, Kecamatan Ambulu. Jarak pulang pergi sekitar 130 kilometer. Ada juga guru yang dari Jenggawah, Panti, dan Jelbuk,” ungkapnya.
Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para guru dan siswa untuk tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar, termasuk pelaksanaan ujian. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh