Perjalanan Menantang Maut 6 Hari! Mahasiswa Jember Tempuh Jalur Darat Azerbaijan-Turki demi Hindari Langit Iran yang Tertutup!

Maulana RJ • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 06:00 WIB
PULANG KE TANAH AIR: Muhammad Bagir saat ditemui di rumahnya, di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates. Ia berhasil dievakuasi di tengah pusaran konflik bersenjata yang kini sedang berlangsung antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat. (MAULANA/RADAR JEMBER) 
PULANG KE TANAH AIR: Muhammad Bagir saat ditemui di rumahnya, di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates. Ia berhasil dievakuasi di tengah pusaran konflik bersenjata yang kini sedang berlangsung antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat. (MAULANA/RADAR JEMBER) 

Radar Jember - Perang berkecamuk, rudal-rudal berseliweran di langit Iran. Tapi bagaimana kondisi masyarakat di sana. Inilah cerita dari M. Bagir Mahasiswa Universitas Qom, Iran yang berhasil pulang ke Jember.

Kepulangan Muhammad Bagir ke Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur, pada Senin (16/3/2026) menjadi momen haru sekaligus penuh ketegangan.

Cerita Mahasiswa Jember Pulang dari Iran setelah Terjebak di Tengah Hujan Rudal Perang Lawan Israel-AS. Dentuman itu masih terngiang di kepala Muhammad Bagir.

Bahkan ketika ia sudah duduk tenang di ruang tamu rumahnya di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember, Senin (16/3). Bayangan langit Iran yang dipenuhi lintasan rudal belum benar-benar hilang.

Bagir pulang. Selamat. Tapi cerita yang ia bawa jauh dari kata biasa.

Mahasiswa Teknik Komputer Universitas Qom, Iran, itu baru saja melewati salah satu fase paling mencekam dalam hidupnya.

Ia terjebak di tengah konflik bersenjata antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. “Saya melihat langsung rudal di langit. Seperti asap, melesat cepat, lalu hilang,” ujarnya pelan, mengenang. 

Bahkan, dia juga pernah ada ledakan sekitar dua kilometer dari pusat kota. “Getarannya terasa sampai tempat saya,” katanya.

Sejak menetap di Iran pada Maret 2022, Bagir tak pernah membayangkan akan menyaksikan perang dari jarak sedekat itu.

Situasi yang awalnya normal berubah drastis hanya dalam hitungan hari. Sirene, kepanikan warga, hingga kabar duka datang bertubi-tubi.

Salah satu yang paling mengejutkan, kata dia, adalah kabar wafatnya Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei, yang disebut-sebut akibat serangan tersebut.

Informasi itu sontak mengguncang psikologis masyarakat. “Semua langsung panik. Aktivitas diliburkan tujuh hari. Suasananya benar-benar berubah,” kenangnya.

Namun di balik ketegangan itu, ada hal yang justru membuatnya heran. Kehidupan masyarakat tetap berjalan.

“Orang masih belanja seperti biasa. Harga kebutuhan pokok seperti susu, telur, beras, bahkan ayam relatif normal. Itu cukup mengejutkan di tengah kondisi perang,” katanya.

Di tengah situasi yang tak menentu, harapan untuk pulang menjadi satu-satunya pegangan. Namun jalan pulang itu tidak mudah.

Langit Iran ditutup total. Tak ada penerbangan. Satu-satunya pilihan adalah jalur darat yang panjang, melelahkan, dan penuh ketidakpastian.

Dengan bantuan KBRI Teheran dan KBRI Baku, Bagir memulai perjalanan panjangnya. Dari Qom menuju Teheran, lalu menembus perbatasan menuju Azerbaijan. Perjalanan berlanjut ke Turki hingga akhirnya ia bisa terbang dari Istanbul menuju Jakarta.

“Total enam hari perjalanan dari Qom sampai Jember,” ucapnya. “Karena penerbangan dari Iran tidak ada sama sekali, jadi harus keluar dulu dari wilayah konflik.”

Enam hari yang tak sekadar soal jarak, tetapi juga perjuangan melawan rasa cemas, lelah, dan ketidakpastian. Kini, semua itu telah berlalu.

Bagir akhirnya bisa menghirup udara kampung halaman dan merayakan Lebaran bersama keluarga. Sesuatu yang sempat terasa begitu jauh saat ia berada di tengah suara ledakan.

“Alhamdulillah sekarang lebih tenang. Waktu di Iran sempat kepikiran keluarga terus,” katanya.

Ia pun tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah Indonesia. “Saya sangat berterima kasih kepada KBRI di Iran dan Kementerian Luar Negeri yang sudah membantu proses evakuasi sampai saya bisa pulang,” ujarnya. (mau/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
mahasiswa Indonesia di iran konflik Iran Amerika Serikat mahasiswa jember konflik timur tengah iran vs israel