Radar Jember - Lonjakan wisatawan selama libur Lebaran di Jember memang patut disyukuri.
Tapi, dua insiden yang terjadi hampir bersamaan, satu di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong dan satu lagi di Pantai Papuma, Kecamatan Wuluhan, menjadi peringatan bahwa ramainya pengunjung, harus diimbangi dengan kesiapan yang memadai.
Pantai Papuma siang, kemarin (31/3) menghadirkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, keindahan alamnya memikat wisatawan yang asyik berfoto dan bermain air. Namun di sisi lain, tim SAR tampak sibuk melakukan pencarian wisatawan asal Cianjur yang hilang terseret ombak sejak Sabtu (28/3).
Baca Juga: Warga Jember Wajib Baca Statmen Resmi Pertamina Ini: Soal Isu Hoax Harga Baru
Kondisi tersebut seolah menunjukkan sebagian pengunjung mulai lengah terhadap potensi bahaya. Padahal, di balik panorama laut biru, pasir putih, serta tebing-tebing eksotis, Pantai Papuma dikenal memiliki karakter ombak yang cukup besar dan berisiko.
Kapolsek Wuluhan Iptu Dardhak Saputro mengatakan, Pantai Papuma selalu menjadi tujuan favorit saat momen libur Lebaran. Tingginya minat wisatawan juga dipengaruhi kebijakan tiket terintegrasi Papuma–Watu Ulo yang dinilai lebih terjangkau.
“Setiap libur Lebaran, Papuma tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi sekarang tiketnya terintegrasi dengan Watu Ulo, sehingga semakin menarik minat wisatawan,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi risiko, pihak kepolisian bersama pengelola telah memasang papan peringatan di sejumlah titik rawan. Area dekat karang dan Bukit Siti Hinggil yang kerap menjadi lokasi favorit berfoto juga telah diberi pembatas, karena lokasi itu sangat berbahaya dan menjadi hilangnya wisatawan Cianjur tersebut.
Baca Juga: Gus Fawait Endus Ulah Spekulan Gas Melon: Stok LPG 3 Kg di Jember Aman, Harga Pengecer Harus Diawasi
Selain itu, kawasan Pantai Malikan yang berada di sisi barat atau setelah tebing Siti Hinggil juga dilarang untuk aktivitas mandi karena memiliki ombak yang lebih besar.
“Pengunjung diminta menjaga jarak dari bibir pantai, karena ombak bisa datang sewaktu-waktu dan berbahaya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto menilai tingginya kunjungan wisata selama Lebaran merupakan dampak positif dari integrasi kawasan wisata yang dilakukan Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Disporabudpar).
Menurutnya, penggabungan pengelolaan wisata Pantai Papuma dan Watu Ulo terbukti mampu meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus mendorong Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.
Akan tetapi, di balik angka yang menggembirakan itu, ia mengingatkan ada pekerjaan rumah besar yang tidak boleh diabaikan.
"Kami mengapresiasi ada kenaikan pengunjung melonjak dan mempengaruhi PAD Jember. Namun, masih harus memperhitungkan kembali sarana-prasarana yang ada, termasuk mitigasi terhadap kejadian yang berpengaruh kepada wisatawan," ujarnya, kemarin.
Baca Juga: Tunggu Juknis Provinsi, Dispendik Jember Pastikan Nilai TKA Punya Bobot Penting di Jalur Prestasi
Salah satu hal yang langsung ia soroti adalah soal perlindungan asuransi bagi wisatawan. Candra mengaku, hingga kini belum mendapat informasi apakah tiket integrasi Papuma dan Watu Ulo sudah mencakup asuransi kecelakaan atau belum.
Jika ternyata belum, tambah dia, maka ini adalah celah serius yang harus segera ditutup. Wisatawan yang datang berlibur berhak mendapatkan perlindungan, bukan hanya sekadar tiket masuk.
"Kalau memang belum ada, maka ke depan harus bisa membuat kerja sama dengan pihak asuransi agar wisatawan mendapatkan tempat wisata yang aman, nyaman, dan terlindungi ketika mereka mengalami kejadian yang tidak diinginkan," tegasnya.
Selain asuransi, Candra juga menekankan pentingnya kehadiran tim SAR dan petugas keselamatan yang terlatih secara khusus di seluruh kawasan wisata. Bukan hanya saat akhir pekan, hari libur, atau musim Lebaran saja, justru hari-hari biasa pun tidak boleh luput dari pengawasan.
Ia mendorong Disporabudpar untuk memperkuat kolaborasi dengan tim SAR maupun relawan potensi SAR lokal yang mengenal medan dan memahami karakteristik wilayah wisata masing-masing.
Keberadaan mereka bukan sebagai pelengkap, melainkan garda terdepan keselamatan wisatawan yang tidak bisa ditawar.
"Maka ke depan juga harus ditingkatkan sarana-prasarana dan mitigasi kebencanaan, agar PAD dari sektor wisata bisa didapatkan secara optimal dan wisatawan bisa lebih nyaman dan aman berlibur," pungkasnya. (kin/jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh