Bagi Imam Santoso ia ingin terus mencari siswa berprestasi di pelosok daerah serta memotivasinya agar mampu melanjutkan kuliah ke kampus ternama.
Dosen kenamaan ITB ini pun tak canggung membaur bersama mahasiswanya hingga mengajaknya mudik ke Ambulu.
Di Jember dosen sekaligus kreator konten ini mengeksplorasi banyak hal, seperti apa ceritanya?
MUCHAMMAD AINUL BUDI, JEMBER
Sore itu mereka berempat sama-sama ingin mengelilingi kota Jember, ke Alun-alun Jember Nusantara. Di momen lebaran, bagi Imam Santoso mudik ke Jember adalah hal wajib mengunjungi kediaman orang tuanya di Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu.
Dia tak sendiri. Ada tiga mahasiswanya yang diajaknya dalam momen mudik tahun ini.
“Ada tiga mahasiswa saya yang saya ajak liburan ke Jember. Tiga mahasiswa saya ini belum mampu mudik ke kampung halamannya di Riau dan Sumatera Barat karena terkendala biaya pesawat yang mahal. Jadi saya ajak lah mudik ke Jember sekaligus liburan di sini beberapa hari,” ungkap Imam kepada Jawa Pos Radar Jember.
Baca Juga: Tanpa Gaji Tetap, Ibu Penjual Es Ini Sukses Sekolahkan Anak ke ITB, UGM, dan BSI! Kok Bisa?
Ya, nama dan gelar lengkapnya adalah D.Sc. (Tech.) Imam Santoso, S.T., M.Phil. atau yang akrab disapa Imam Santoso bukan nama asing di kalangan dosen atau mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kampus ternama di Indonesia ini membesarkan nama pria alumni SMA Ambulu itu. Dosen Teknik Metalurgi di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan itu kini juga menjadi motivator dan influencer konten kreator kenamaan.
Pengikut akun pribadi Instagram-nya saja sekarang sudah lebih dari 800 ribu. Konten-konten inspiratif Imam berfokus pada motivasi siswa berprestasi berlatar belakang keluarga tak mampu yang ingin berkuliah di ITB namun terkendala biaya.
Sebab, Imam dulunya pun sama. Dia berlatar belakang keluarga yang tak bergelimang harta di Ambulu. Orang tuanya buruh tani, namun Imam kini sukses menjadi dosen dengan Pendidikan akademisnya sudah S3.
Perjalanan akademik Imam ibarat setapak demi setapak namun pasti. Berasal dari desa pelosok di dekat Pantai Selatan Jember. Imam kini akhirnya mencapai Pendidikan tinggi hingga S3 dan menjadi dosen Metalurgi di ITB. S1 Imam di ITB ia tempuh dengan waktu 3,5 tahun dan berstatus cumlaude.
Baca Juga: Mahasiswa Jember di Seluruh Indonesia Wajib Tahu! Ini Aturan Baru Beasiswa Pemkab
Masuk tahun 2003 dan keluar 2007. Tak berhenti di situ. Imam melanjutkan pendidikan S2-nya di University of Queensland Australia dan lulus pada 2014 silam. Imam juga mendapat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk S3-nya di Aalto University Finlandia pada 2019 lalu.
Imam pun sempat dijuluki manusia beasiswa. Betapa tidak, perjalanan kuliah Imam di ITB penuh lika-liku. Perjalanan S1 Imam pun diwarnai banyak beasiswa untuk membayar SPP. Beberapa beasiswa yang pernah dia dapatkan antara lain dari perusahaan minyak, Bank BRI, hingga Supersemar.
Gongnya saat Imam di acc mendapat beasiswa LPDP setelah menyelesaikan S2- nya 2013, setahun berikutnya dia melanjutkan kuliah di bidang Metalurgi di Aalto University.
Baca Juga: Berapa sih Masa Studi Penerima Beasiswa LPDP?
Sikap pantang menyerahnya di tengah keterbatasan dana di masa lalu, membuat Imam kini sering membagikan cerita dan pengalaman berharga bagi siswa. Terlebih bagi mereka yang berasal dari keluarga tak mampu dan berprestasi yang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi.
Blusukan Cari Siswa Berprestasi
Tahun 2024 saja, Imam roadshow ke beberapa SMA di kawasan .tapal kuda Jawa Timur, seperti Jember, Bondowoso, dan Situbondo.
Bagi Imam, kegiatan blusukannya itu terus berlanjut hingga sekarang. Imam juga aktif untuk memotivasi anak-anak di kampungnya untuk terus melanjutkan pendidikan.
Selain untuk memotivasi anak muda untuk melanjutkan kuliah, Imam juga memberikan informasi berbagai beasiswa yang tersedia. Selain itu, Imam juga aktif mencari anak muda yang memiliki potensi namun kurang mampu baik dalam hal finansial.
Menurutnya, siswa-siswa Jember sendiri sampai sekarang masih cukup besar minatnya untuk melanjutkan Pendidikan tingginya ke kampus-kampus besar. Apalagi ITB.
“Tahun lalu saja saya masih roadshow ke SMA Ambulu, SMA 1 Jember, SMA 2 Jember, ya mereka sangat antusias. Tapi juga tidak sedikit dari mereka takut soal passing grade-nya ITB tinggi. Tapi menurut saya ya gak boleh takut, apalagi soal biaya,” jelasnya.
Baca Juga: Rekor Baru! Pendaftar Beasiswa LPDP Tahap 1 2026 Tembus 32 Ribu Pelamar
“Apalagi sekarang zaman sudah banyak informasi beasiswa. Tidak hanya dari pemerintah tapi juga beasiswa perusahaan swasta lainnya. Tinggal adik-adik mau fokusnya ke mana dan meninggikan skor UTBK-nya serta sering ikut olimpiade sebagai penunjang,” imbuhnya.
Imam bercerita, beberapa tahun lalu bahkan ia menjemput langsung siswa berprestasi asli Jember yang mau masuk ITB. "Waktu itu saya dapat informasi kalau siswa ini berprestasi..." ujar Imam.
"Akhirnya saya bersama tim beasiswa Paragon saat itu menjemput langsung dia,” lanjut dia.
Imam pun berpesan kepada adik-adik di Jember agar tak takut meraih mimpi berkuliah ke kampus-kampus besar di Indonesia. Termasuk salah satunya ITB.
“Karena kampus-kampus besar itu juga punya banyak jalur beasiswa. Ingat Pendidikan bisa mengubah hidup kalian. Kita juga harus bisa sama-sama membangun Jember dengan menyumbangkan pemikiran serta karya,” tegasnya.
Di Jember Imam dan tiga mahasiswanya yakni Devit Febriansyah, Nauli Al Ghifari serta Adhyaksa Yusuf Iskandar mendapat pengalaman baru. Di rumah Ambulu saja, mereka menikmati lingkungan pedesaan. Menikmati makanan khas pedesaan bersama-sama, bermain ke sawah hingga mengunjungi Pantai terkenal Jember, di Papuma.
Baca Juga: Daftar Beasiswa Tanpa SKTM? Bisa Saja Cek Panduannya Ini
Mereka pun juga salat idul fitri di lapangan desa dekat rumah Imam. Setelah puas mengeksplorasi suasana desa khas Ambulu, mereka pun beranjak ke Kota. Dari Ambulu ke kota Jember kurang lebih menempuh jarak sekitar 45 sampai 60 menit.
Di Jember, mereka pun kembali berkeliling. Salah satu tujuan utamanya adalah ke Alun-alun Jember dengan videotron megahnya.
“Saya juga ajak anak-anak ini ke kawasan blok M (pasar buku bekas di belakang Johar Plaza). Karena saya dulu sering beli buku bekas di sana,” beber Imam.
Bagi Imam, mengajak beberapa mahasiswanya yang tak pulang kampung itu adalah keberkahan tersendiri. Sebab, Imam tak ingin di saat momen libur lebaran mahasiswanya tersebut juga tak merasakan kehangatan berkumpul keluarga.
Baca Juga: Unhan RI Buka Pendaftaran Beasiswa S2 dan S3 Tahun 2026/2027: Kesempatan bagi Sipil dan TNI/Polri
Ketika mudik kemarin, Imam mengunggah video potongan berita koran itu kepada mahasiswanya.
Ia bercerita bila zaman dahulu bila ada siswa yang tidak mampu dan keterima di ITB, langsung diviralkan oleh Jawa Pos Radar Jember.
“Dan di berita itu ada kutipanku, dibawalah berita koran itu oleh anak-anak ITB dan ditunjukkan ke Pak Brian (Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) dulu pak Brian masih di bidang kemahasiswaan ITB,” kata Imam dalam potongan videonya itu.
Editor : M. Ainul Budi