Radar Jember - Rentetan bencana terus melanda Jember sejak awal 2026. Longsor, banjir hingga pohon tumbang terjadi hampir tanpa jeda di berbagai wilayah.
Hingga awal Maret saja, jumlah kejadian bencana sudah mencapai 146 peristiwa.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember menunjukkan, sepanjang Januari 2026 terjadi 44 kejadian bencana.
Angka itu melonjak tajam pada Februari dengan total 86 kejadian. Sementara pada dua hari pertama Maret saja sudah tercatat 16 peristiwa.
Baca Juga: Okupansi Daop 9 Jember Melejit: 158 Ribu Tiket Ludes Terjual Jelang Libur Nyepi dan Lebaran 2026
Rentetan kejadian itu bahkan belum termasuk dampak angin kencang yang menerjang wilayah selatan Jember.
Kalaksa BPBD Jember Edy Budi Susilo menyebut, angin kencang yang melanda Kecamatan Wuluhan belakangan ini menimbulkan kerusakan cukup besar.
Puluhan pohon tumbang dan sejumlah bangunan rusak akibat terjangan angin.
“Belum sampai puncak terjadi angin kencang mengakibatkan 51 pohon tumbang, 15 gudang pengeringan tembakau roboh,” ujarnya, beberapa hari lalu.
Baca Juga: Perpani Jember Siapkan Seleksi Berdasarkan Skor, Jadi Penentu Siapa Berangkat ke Porprov Jatim 2027
Menurut Edy, potensi bencana di Jember masih sangat mungkin meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Hal itu berkaitan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut puncak cuaca ekstrem diperkirakan terjadi pada Maret 2026.
Kondisi tersebut dapat memicu hujan lebat disertai angin kencang di sejumlah wilayah. “Dimungkinkan terjadi angin cukup kencang dan hujan tinggi ekstrem, itu yang harus diwaspadai oleh semua,” katanya.
Menghadapi situasi tersebut, BPBD Jember telah menetapkan status siaga I selama masa cuaca ekstrem.
Langkah itu dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana sekaligus mempercepat penanganan jika ada kejadian darurat. Edy menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan bencana.
“Paling penting adalah bagaimana penyelamatan jiwa manusia, setelah itu baru harta benda. Alam tidak bisa dilawan, alam bekerja sesuai dinamikanya,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jember Widarto mengingatkan pemerintah daerah agar memperkuat kesiapan anggaran kebencanaan.
Menurutnya, ancaman bencana yang terus meningkat harus diimbangi dengan kesiapan penanganan yang lebih cepat dan memadai.
Ia menilai langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi.
“Jadi antisipasinya yang harus dilakukan, karena ketika sudah terjadi bencana, biaya penanganannya jauh lebih mahal,” katanya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh