Radar Jember - Upaya mempercepat pembentukan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Jember masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan.
Program yang digadang menjadi penggerak ekonomi desa itu belum sepenuhnya berjalan sesuai target.
Menjelang peluncuran nasional pada April 2026, jumlah Koperasi Merah Putih yang benar-benar berdiri masih terbatas.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (DKUKMP) Jember Sartini mengakui pembangunan KDKMP masih berjalan bertahap.
Dari total rencana 104 unit, empat di antaranya masuk gelombang pertama yang sudah rampung. “Empat unit sudah selesai. Yang lainnya progresnya masih berjalan dan kami kejar agar bisa selesai sesuai target,” ujarnya, awal Maret.
Meski demikian, ia tidak merinci secara terbuka lokasi empat KDKMP yang disebut sudah selesai dibangun. Di sisi lain, waktu menuju peluncuran nasional semakin dekat.
Secara nasional sekitar seribu koperasi ditargetkan siap beroperasi pada April mendatang. Sementara Jember membidik 104 unit bisa ikut dalam momentum tersebut.
Baca Juga: Mudik Udara Jember 2026: Okupansi Fly Jaya Rute Jakarta Tembus 100 Persen Jelang Lebaran
Target tersebut jelas bukan perkara mudah. Selain persoalan teknis pembangunan, ketersediaan lahan menjadi kendala paling nyata di lapangan.
Banyak desa di Jember, terutama yang berada di kawasan padat penduduk, tidak lagi memiliki lahan kosong yang bisa langsung digunakan untuk membangun koperasi.
Pemkab Jember bahkan harus mengajukan permohonan pemanfaatan lahan kepada PTPN 1 Regional 5. Setidaknya ada sekitar 20 titik yang diajukan sebagai calon lokasi pembangunan koperasi desa.
“Memang ada kendala lahan. Karena itu kami ajukan permohonan ke PTPN untuk mendukung ketersediaan lokasi,” kata Sartini.
Bagi desa yang benar-benar tidak memiliki lahan, tambah Sartini, pemerintah menyiapkan skema grouping atau penggabungan antar desa. Sehingga, mereka bisa membangun KDMP di lokasi yang dekat dengan desanya.
Untuk diketahui, konsep KDMP memang dirancang sebagai pusat aktivitas ekonomi desa. Mulai dari gerai ritel kebutuhan pokok, apotek desa, hingga pangkalan elpiji. Tujuannya agar perputaran uang tetap berada di tingkat desa.
“Prinsipnya uang berputar di desa. Warga belanja di desa, keuntungan kembali ke masyarakat desa," tegasnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh