Jro Gede I Nengah Sukarya: Kerukunan di Jember Sudah Mengakar, Umat yang Merayakan Nyepi dan Idulfitri Saling Menghormati

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Rabu, 18 Maret 2026 | 04:34 WIB
SAMBUT NYEPI: Penjaga Pura Agung Amertha Asri di Kecamatan Patrang, Nyoman Sukadana. (YULIO FA/RADAR JEMBER)
SAMBUT NYEPI: Penjaga Pura Agung Amertha Asri di Kecamatan Patrang, Nyoman Sukadana. (YULIO FA/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Perayaan Hari Suci Nyepi tahun ini berdekatan dengan malam takbiran menjelang Idul Fitri. Momentum tersebut justru menjadi gambaran kerukunan antarumat beragama di Jember. 

Ketua Pinandita Kabupaten Jember sekaligus pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jember Jro Gede Drs I Nengah Sukarya menjelaskan, Nyepi merupakan hari suci bagi umat Hindu yang dijalani dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian selama 24 jam, mulai pukul 06.00 hingga 06.00 keesokan harinya.

“Bagi umat hindu terdapat beberapa pantangan,” katanya.

Baca Juga: Update Mudik Bondowoso: Terminal Ramai, Bus Diperiksa Ketat

Pantangan itu meliputi amati karya atau tidak bekerja dan menghentikan aktivitas fisik seperti bertani atau berdagang. Umat Hindu dianjurkan lebih banyak bersembahyang, bermeditasi, dan merenungkan hakikat kehidupan.

Selanjutnya amati geni, yaitu tidak menyalakan api, tidak memasak, serta menjalani puasa. Pantangan ini dimaknai sebagai upaya menahan hawa nafsu sekaligus membersihkan diri secara spiritual.

Pantangan ketiga adalah amati lelungan, yakni tidak bepergian keluar rumah. Sedangkan yang terakhir amati lelanguan, yaitu tidak mengadakan hiburan atau bersenang-senang selama hari suci tersebut.

“Selama 24 jam umat Hindu melaksanakan brata penyepian. Tidak bekerja, tidak bepergian, tidak menyalakan api, dan tidak mengadakan hiburan. Waktu itu digunakan untuk sembahyang dan merenungkan kehidupan,” ujarnya.

Baca Juga: Begini Kata Kapolda Jatim Usai Tragedi Ledakan Masjid di Jember

Menurut Sukarya, pada Nyepi tahun ini bertepatan dengan malam takbiran Idulfitri justru menjadi momentum untuk menunjukkan sikap saling menghormati antarumat beragama.

Ia mencontohkan di sejumlah wilayah seperti Umbulsari, Sukoreno, Gunungsari, hingga Patrang, kegiatan Nyepi setiap tahun berjalan dengan lancar. Bahkan di beberapa pura, pengamanan juga melibatkan umat Muslim.

“Pura-pura di sini dijaga oleh Banser. Itu bentuk nyata kerukunan. Kami merasa sangat dihormati,” katanya.

Sikap saling menjaga itu juga terlihat saat rangkaian upacara menyambut Nyepi digelar. Misalnya pada upacara Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh di Sukoreno, Umbulsari. Warga non-Hindu ikut membantu mengatur lalu lintas hingga parkir kendaraan.

Setelah Nyepi, umat Hindu merayakan Ngembak Geni, yaitu hari untuk bersyukur sekaligus bersilaturahmi dan saling memaafkan.

Tahun ini, momen tersebut bertepatan dengan malam takbiran. Karena itu, umat Hindu dan Muslim di sejumlah wilayah Jember juga memanfaatkan momentum tersebut untuk saling berkunjung dan mengucapkan selamat hari raya.

Baca Juga: Jelang Libur Nyepi dan Idulfitri 1447 H, Okupansi Penumpang di Daop 9 Jember Meningkat Signifikan

Di kawasan Patrang, misalnya, umat Muslim, Kristen, Katolik, dan Hindu berkumpul di Balai Paseban setelah pelaksanaan Ngembak Geni untuk saling menyampaikan ucapan selamat serta mempererat silaturahmi.

“Di Jember kerukunan antarumat beragama sudah berjalan baik. Saat Nyepi kami menjalankan ibadah dengan khusyuk, sementara saudara Muslim tetap bisa melaksanakan takbiran,” pungkasnya. (yul/dwi)


 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
hari suci catur brata penyepian Jember hari raya hindu fkub Nyepi idulfitri