BADEAN, Radar Jember – Perpustakaan yang harusnya ada di setiap sekolah rupanya tidak semua sekolah memiliki. Seperti di SDN Badean 02. Justru tempat penyimpanan buku itu diletakkan di gudang yang kondisi sebagian plafon runtuh.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, (11/3) sejumlah siswa berada di ruang tersebut. Mereka membaca buku dengan kondisi bangunan yang kurang layak. Bahkan, di ruang tersebut mirip dengan gudang, karena terdapat kardus elektorik yang tidak terpakai.
“Ruangan ini harapan saya bisa dijadikan tempat multifungsi. Perpustakaan, ruang baca, dan aula. Tapi saat pengajuan perbaikan, tidak di ACC,” ungkap Kepala SDN Badean 02 Ashari.
Kepala SDN Badean 02 Ashari menjelaskan, sebenarnya sekolah telah mendapat program revitalisasi bangunan pada tahun lalu.
Namun dari tiga ruang, terdiri dua ruang kelas dan satu ruang perpustakaan multifungsi. Tapi hanya dua yang disetujui, yaitu ruang kelas.
Padahal ketiga ruangan itu berada dalam satu rangkaian bangunan. Karena itu pihak sekolah khawatir kerusakan pada satu ruangan dapat berdampak pada bangunan lainnya.
“Padahal sebenarnya itu satu kesatuan bangunan. Kalau amit-amit bagian yang rusak sampai ambrol, bisa saja berdampak ke ruang yang sudah direvitalisasi,” ujarnya.
Selama ini berbagai kegiatan sekolah terpaksa dilakukan di dalam kelas karena keterbatasan ruang. Misalnya kegiatan literasi membaca hingga kegiatan Pondok Ramadan yang digelar saat bulan puasa.
Menurut Ashari, jika ruangan tersebut diperbaiki, maka sekolah juga bisa memanfaatkannya sebagai musala sementara bagi siswa.
“Ruangannya cukup luas. Tidak dipenuhi meja kursi seperti kelas, jadi bisa dipakai untuk kegiatan keagamaan dan sebagainya,” jelasnya.
Lebih jauh, SDN Badean 02 kini memiliki jumlah siswa yang tidak banyak. Saat ini total hanya terdapat 47 siswa dari kelas satu hingga kelas enam.
Rinciannya, kelas satu berjumlah 10 siswa, kelas dua 7 siswa, kelas tiga 14 siswa, kelas empat 5 siswa, kelas lima 3 siswa, dan kelas enam 8 siswa. Proses belajar mengajar didukung sembilan guru dan satu penjaga sekolah.
Jumlah siswa yang relatif sedikit tidak lepas dari kondisi geografis wilayah sekitar sekolah. Sebagian siswa harus melewati jalan di area kebun karet untuk menuju sekolah.
“Akses ke sekolah cukup sulit,” pungkasnya. (yul/dwi)
Editor : M. Ainul Budi