Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Waspada Sifat Pendendam Monyet Ekor Panjang: KSDA Jember Ingatkan Risiko Pelihara Satwa Liar di Rumah!

Dwi Siswanto • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:02 WIB

Ilustrasi eksploitasi satwa dalam atraksi topeng monyet.
Ilustrasi eksploitasi satwa dalam atraksi topeng monyet.

Radar Jember - Memelihara monyet ekor panjang saat masih bayi memang kerap dianggap menggemaskan.

Tingkahnya yang lincah dan ekspresif membuat sebagian orang tertarik menjadikannya hewan peliharaan.

Namun, anggapan tersebut dinilai keliru jika tidak memahami sifat alaminya sebagai satwa liar.

Polisi Kehutanan (Polhut) Bidang KSDA Wilayah III Jember, Ariyanti, menegaskan bahwa monyet ekor panjang tetap memiliki naluri liar meskipun dipelihara sejak kecil.

“Walaupun dipelihara sejak bayi, monyet ekor panjang akan tetap menunjukkan sifat liarnya ketika dewasa. Karena pada dasarnya, itu hewan liar yang habitatnya di hutan, bukan untuk dipelihara di rumah,” tegasnya.

Menurut Ariyanti, perubahan perilaku biasanya mulai terlihat ketika monyet beranjak dewasa.

Jika saat kecil tampak jinak dan mudah diarahkan, saat dewasa perilakunya bisa menjadi agresif dan sulit dikendalikan. Terutama, bagi monyet jantan yang cukup bahaya saat birahi.

Ia menjelaskan bahwa setiap jenis primata memiliki karakter berbeda. Dalam pengalamannya, ia menyebut orang utan dikenal memiliki sifat pencemburu, sementara monyet ekor panjang cenderung memiliki sifat pendendam.

“Kalau orang utan itu ada sifat cemburu. Sedangkan monyet ekor panjang dikenal pendendam,” paparnya.

Dalam praktik pemeliharaan primata, lanjutnya, ada perlakuan tertentu yang harus diperhatikan. Misalnya, orang utan sebaiknya didahulukan saat pemberian makan untuk menghindari munculnya sifat cemburu.

Sementara itu, pada monyet ekor panjang, tindakan kasar atau menyakiti justru dapat memicu respons agresif di kemudian hari.

“Jangan sekali-kali menyakiti monyet ekor panjang. Kalau merasa disakiti, bisa saja ia menyimpan rasa dendam,” jelasnya.

Ia menilai, sejumlah kasus serangan monyet terhadap manusia bisa saja dipicu oleh pengalaman buruk sebelumnya, seperti dipukul atau diusir saat ketahuan mengambil makanan.

Ariyanti juga mengingatkan bahwa alasan memelihara monyet karena dianggap lucu sering kali tidak mempertimbangkan risiko jangka panjang.

Seiring pertumbuhan tubuhnya, kebutuhan pakan semakin besar dan perilakunya kembali ke naluri alaminya.

Ia menambahkan, monyet yang menyerang warga umumnya dipicu beberapa faktor, seperti rasa lapar, kondisi birahi, merasa terancam, atau stres karena terkekang dalam kandang sempit.

Tekanan tersebut dapat memicu agresivitas, terlebih jika satwa merasa ruang geraknya terbatas.

Kondisi itulah yang kerap menyebabkan monyet mengamuk di permukiman dan membahayakan warga.

Bahkan di Jember, kasus serangan monyet terhadap manusia pernah terjadi hingga korban harus mendapatkan penanganan medis.

Karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak memelihara satwa liar, termasuk monyet ekor panjang. Selain berisiko bagi keselamatan manusia, tindakan tersebut juga tidak sesuai dengan prinsip konservasi satwa liar.

Sementara, untuk habitat monyet ekor panjang di Jember tidak terfokus pada satu tempat. Tapi banyak lokasi. Lereng selatan Argopuro, Papuma, Gumitir, Nusa Barong, dan Cagar Alam Curah manis Sempolan.

“Hutan tropis itu menjadi habitat monyet ekor panjang memang,” terangnya.

Dosen Program Studi Produksi Ternak Politeknik Negeri Jember, drh Aan Awaludin, menerangkan, secara sederhana primata adalah hewan dengan karakteristik yang paling mendekati manusia.

“Primata juga menjadi hewan yang punya rasa penasaran paling tinggi daripada hewan lainnya,” jelasnya.

Sejauh yang dia ketahui, monyet ekor panjang tidak akan mengalami jatuh cinta terhadap manusia. Tapi, adanya ikatan yang kuat dengan manusia yang memberi makan akan terjalin.

“Monyet akan terus mengikuti manusia, karena manusia memberi makan. Seperti monyet di Bali, setiap ada manusia akan menghampiri. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena terbiasa diberi makan oleh manusia,” pungkasnya. (dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #topeng monyet #KSDA Jawa Timur #polhut #eksploitasi hewan