Radar Jember - Menjelang Lebaran, pembayaran tunjangan hari raya (THR) menjadi salah satu hal yang dinanti pekerja.
Selain kewajiban perusahaan memenuhi hak tersebut, keterbukaan komunikasi antara karyawan dan manajemen dinilai penting apabila muncul kendala dalam pembayarannya.
Di tengah kondisi dunia usaha yang belum sepenuhnya stabil, sejumlah perusahaan disebut masih menghadapi tekanan dari sisi keuangan maupun operasional.
Situasi itu tak jarang memengaruhi kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban pembayaran THR tepat waktu.
Karena itu, transparansi dinilai perlu dikedepankan oleh kedua belah pihak.
Baik perusahaan maupun pekerja diharapkan membangun komunikasi terbuka agar persoalan yang muncul tidak berkembang menjadi konflik hubungan industrial.
Ketua DPC Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Jember Umar Faruk mengatakan, perusahaan seharusnya tidak menutup-nutupi kondisi keuangan jika memang sedang mengalami kesulitan.
Keterbukaan sejak awal dinilai lebih baik dibandingkan membiarkan pekerja menunggu tanpa kepastian.
“Kalau memang ada kendala, sampaikan secara terbuka kepada pekerja. Komunikasi itu penting supaya tidak muncul kesalahpahaman,” ujarnya.
Menurut dia, transparansi juga memberi ruang bagi pekerja untuk memahami situasi perusahaan.
Namun, keterbukaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menghilangkan kewajiban pembayaran THR yang sudah diatur dalam regulasi ketenagakerjaan.
Ia menambahkan, dialog antara manajemen dan pekerja bisa menjadi jalan keluar jika perusahaan benar-benar menghadapi kendala.
Melalui komunikasi yang baik, kedua pihak dapat mencari solusi tanpa harus langsung berujung pada perselisihan.
Meski begitu, ia menegaskan hak pekerja tetap harus menjadi prioritas.
Apabila perusahaan tidak menunjukkan itikad baik atau menutup ruang komunikasi, pekerja tetap memiliki hak untuk melaporkan persoalan tersebut kepada dinas terkait agar mendapat penanganan sesuai aturan. (dhi/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh