Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sosok Pak Toli: Mengabdi Jadi Kader Posyandu di Kalisat, Buktikan Kesehatan Balita Bukan Urusan Emak-Emak Saja!

Maulana RJ • Rabu, 11 Maret 2026 | 06:00 WIB

 

INSPIRATIF: Toli, 62, salah satu kader Posyandu Desa Sukoreno, Kecamatan Kalisat.
INSPIRATIF: Toli, 62, salah satu kader Posyandu Desa Sukoreno, Kecamatan Kalisat.

Radar Jember - Senin kemarin (9/3) di Kantor Desa Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat, terasa lebih ramai dari biasanya.

Ratusan kader posyandu berkumpul dalam satu ruangan. Sekitar 445 orang hadir, sebagian besar adalah ibu-ibu yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat desa.

Namun, ada satu sosok yang tampak berbeda. Seorang pria duduk di antara para kader perempuan.

Mengenakan batik hitam berpadu motif pink, ia terlihat santai namun tetap sigap mengikuti jalannya acara. Namanya Toli.

Di tengah dominasi kaum perempuan dalam kegiatan posyandu, pria berusia 62 tahun itu tetap aktif membantu, memantau, bahkan sesekali mengarahkan jalannya kegiatan.

Kehadirannya seperti hal biasa bagi para kader yang sudah lama mengenalnya.

Padahal, tidak banyak pria yang memilih jalan pengabdian seperti yang ia lakukan.

Bagi warga desa, Pak Toli, begitu ia biasa disapa, bukan sekadar kader posyandu.

Ia adalah sosok yang selama puluhan tahun ikut menjaga kesehatan ibu dan anak di lingkungannya.

Langkahnya mungkin sudah tak secepat dulu. Rambutnya pun mulai memutih dimakan usia.

Namun semangatnya masih sama seperti puluhan tahun lalu.

Pengabdian itu dimulai pada tahun 1989. Saat itu, kegiatan posyandu di desa masih sangat sederhana.

Belum banyak orang yang benar-benar memahami pentingnya layanan kesehatan dasar bagi ibu dan balita.

Pak Toli adalah salah satu dari sedikit orang yang bersedia turun tangan membantu.

Ia datang, menggerakkan warga, membantu kegiatan penimbangan balita, hingga mendampingi berbagai program kesehatan masyarakat. Semua itu ia lakukan tanpa pamrih.

Bahkan selama bertahun-tahun ia menjalani peran tersebut tanpa menerima honor sepeser pun.

Baru sekitar awal tahun 2000-an, para kader posyandu mulai mendapatkan insentif. Saat itu, Pak Toli menerima honor sekitar Rp 50 ribu per bulan.

Jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang ia curahkan.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, honornya memang meningkat. Saat ini ia menerima sekitar Rp 300 ribu per bulan.

Namun bagi Pak Toli, angka itu bukanlah alasan utama ia tetap bertahan. Baginya, pengabdian ini adalah bagian dari niat mencari pahala.

“Saya ingin dapat pahala. Sewaktu-waktu dibutuhkan, saya tetap jalan,” ujarnya dengan suara pelan namun penuh keyakinan saat ditemui usai acara.

Di Desa Sukoreno tempat ia dikenal luas sebagai kader Posyandu, Pak Toli juga mematahkan anggapan lama bahwa urusan posyandu hanya menjadi wilayah para “emak-emak”.

Ia menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama.

Selama puluhan tahun, ia membantu berbagai kegiatan posyandu, mulai dari pendataan warga, memantau program kesehatan, hingga membantu menggerakkan masyarakat untuk datang ke posyandu.

Padahal secara administratif, Pak Toli sebenarnya sudah memasuki masa pensiun sebagai staf desa.

Pada tahun 2024 lalu, ia resmi pensiun dari pekerjaannya di kantor desa. Secara logika, itu adalah waktu yang tepat untuk beristirahat.

Namun ternyata, warga desa tidak sepenuhnya siap kehilangan sosoknya. Kepala desa dan masyarakat justru meminta Pak Toli tetap melanjutkan pengabdiannya sebagai kader posyandu.

“Kata Pak Kades: sampeyan meskipun sudah pensiun, jangan pensiun dulu. Saya masih butuh Bapak di sini,” kenang Pak Toli menirukan ucapan kepala desa dengan senyum kecil.

Permintaan itu membuatnya berpikir ulang. Akhirnya ia memilih tetap bertahan.

Kini, di usia yang sudah memasuki kepala enam, Pak Toli membawa misi baru. Bukan lagi sekadar membantu kegiatan posyandu, tetapi juga menjadi pembimbing bagi kader-kader muda.

Ia menyadari bahwa regenerasi harus terus berjalan. Kader baru harus muncul agar pelayanan kesehatan masyarakat tetap terjaga.

Dan selama ia masih mampu berjalan, masih mampu membantu, ia merasa tugasnya belum selesai.

Bagi Pak Toli, melihat anak-anak desa tumbuh sehat adalah kebahagiaan tersendiri. Lebih berharga dari sekadar lembaran rupiah yang ia terima setiap bulan.

“Selama masih bisa memberi manfaat untuk sesama, ya tidak apa-apa. Dijalani saja,” ucapnya. (mau/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #kalisat #kader Posyandu #kesehatan balita