Radar Jember - Geliat arus mudik di Terminal Tawang Alun Jember terpantau lengang. Walau begitu, diprediksikan lonjakan pergerakan akan terjadi H-3 Lebaran.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (5/3), sejumlah Perusahaan Otobus (PO) yang mengoperasikan armadanya di peron memperlihatkan deretan kursi kosong.
"Dapat dua atau tiga orang saja sudah untung kalau di dalam terminal. Tapi di luar terminal dan selama perjalanan nanti bisa dapat penumpang lebih," aku Sugeng, kondektur bus jurusan Jember - Surabaya, saat itu.
Hingga memasuki dua pekan terakhir sebelum hari raya (20 Maret 2026), aktivitas di peron keberangkatan maupun kedatangan masih didominasi oleh penumpang reguler.
Kondisi ini membuat suasana terminal cenderung lengang, sangat kontras dengan hiruk pikuk yang biasanya menjadi ciri khas pusat transportasi publik saat mendekati masa cuti bersama nasional
"Sejauh ini rata-rata jumlah penumpang di bawah 1.000 orang, tidak terlalu banyak. Prediksi kami lonjakan penumpang atau pemudik itu mendekati Lebaran, H-2 atau H-3 itu sudah," kata Kepala Terminal Tawang Alun Jember, Pudjiono, Kamis (5/3).
Pihak otoritas terminal mencatat bahwa stagnasi jumlah penumpang ini dipengaruhi oleh karakteristik Terminal Tawang Alun yang lebih menonjol sebagai titik akhir atau terminal kedatangan ketimbang keberangkatan.
Pudjiono mengungkapkan, tren tahunan menunjukkan grafik pergerakan penumpang justru akan mencapai puncaknya pada periode pasca-lebaran.
Saat arus balik dimulai, barulah terminal ini akan mengalami tekanan volume penumpang yang luar biasa seiring dengan kembalinya para pemudik ke kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, hingga Jakarta.
"Itu karena di Terminal Tawang Alun sendiri itu sebenarnya untuk terminal kedatangan. Jadi saat arus mudik tidak begitu banyak, justru lebih besar saat arus balik mudik lebaran nanti," jelas Pudjiono.
Meski saat ini kondisi masih landai, pihak pengelola terminal tetap menyiagakan personel dan para PO dengan armada cadangannya. Hal itu untuk mengantisipasi lonjakan mendadak di pengujung Ramadan. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh