Radar Jember - Memasuki bulan Maret, kewaspadaan terhadap ancaman banjir di Jember masih tinggi. Pada awal Februari lalu, Sungai Petung di Desa Pakis, Kecamatan Panti, meluap hingga merusak sejumlah rumah warga dan menyebabkan satu korban jiwa.
Pertengahan Februari, banjir besar kembali terjadi akibat luapan Sungai Bedadung. Terbaru, Senin kemarin (2/3), Sungai Dinoyo yang melintasi wilayah Panti hingga Rambipuji meluap deras.
Menjelang waktu berbuka puasa, warga Dusun Krajan, Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, masih sibuk menyiapkan hidangan di dapur masing-masing. Meski, hujan masih gerimis kemarin sore (2/3) tak membuat mereka curiga.
Namun, sekitar pukul 16.30, air Sungai Dinoyo tiba-tiba datang dengan deras. Berwarna cokelat pekat, bercampur lumpur, hingga kayu-kayu dari hulu. Dalam hitungan menit, air melimpas ke jalan hingga menerjang rumah-rumah warga.
Salah satu rumah yang terdampak paling parah adalah milik Sumiyah, lansia yang tinggal seorang diri itu pada bagian dapurnya ambruk setelah dihantam arus banjir.
“Saya di rumah sendirian. Saat air sungai meluap, saya langsung dikeluarkan warga ke tempat aman. Air bercampur lumpur sudah masuk ke rumah,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Ia menuturkan, tembok dapurnya roboh hingga merusak peralatan rumah tangga. Lumpur tebal juga menggenangi kamar tidur, bahkan lemari terseret hingga ke ruang tamu.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (3/3) air sudah surut. Tapi lumpur masih mengendap tebal di rumah Sumiyah.
Ketua RT 003/RW 011 Dusun Krajan, Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, Ali Purnomo, mengatakan air sungai membesar secara tiba-tiba. Warga yang tengah bersiap memasak untuk berbuka tak sempat menyelamatkan barang-barang.
“Hujan di sini hanya gerimis, tapi di bagian hulu deras. Air yang datang bercampur lumpur dan banyak kayu besar,” jelasnya.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan, terjadi hujan ringan hingga lebat mulai pukul 13.30 sampai 20.30. Hal itu menyebabkan empat sungai meluap, yakni Sungai Dinoyo, Sungai Kaliputih, Sungai Badean, dan Sungai Kalijompo.
Kenaikan debit air sungai dimulai sekitar 18.30. Air bercampur lumpur masuk ke permukiman warga dengan ketinggian sekitar 40-70 cm. Sebanyak empat desa dan dua kelurahan di tiga kecamatan Panti, Rambipuji, dan Kaliwates.
Tercatat 132 kepala keluarga atau 435 jiwa terdampak, dan sedikitnya 111 jiwa mengungsi di tiga titik pengungsian dengan pendampingan petugas gabungan di Jember.
Terdapat tiga rumah rusak, satu musalah dan sekolah Paud juga turut terendam air. Sementara di Panti juga ada tanah longsor di wilayah perkebunan.
Di lokasi lain di Dusun Krajan, derasnya arus juga menggerus tanah pekarangan warga hingga mendekati bangunan rumah. Rumah milik Haryono 47 bahkan terancam ambruk karena pondasi dapurnya terkikis.
Ia mengaku banjir kali ini lebih parah dibandingkan tahun 2022 lalu. Air bercampur lumpur setinggi hampir satu meter menggenangi dapur dan rumahnya. Kusen pintu retak dan posisi dapur terlihat miring akibat pondasi yang tergerus.
Menurut Ali Purnomo, puluhan rumah terdampak, namun kondisi terparah dialami rumah Haryono. Ia berharap Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Provinsi maupun Kabupaten Jember segera melakukan pemasangan bronjong atau plengsengan di titik aliran sungai yang terus berpindah.
“Kalau tidak segera ditangani, lama-lama pekarangan dan rumah warga bisa habis. Bahkan jalan aspal bisa ikut terkikis,” ujarnya.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Jatim bersama UPT BMSDA Rambipuji telah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan.
Rencananya, alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Jember akan melakukan normalisasi sungai. Namun pengerjaan sementara ditunda karena debit air masih tinggi.
Petugas dari DPUSDA Jatim, A’an, mengatakan pihaknya tengah mengkaji pemasangan bronjong di titik aliran sungai yang menikung. Hal itu dilakukan untuk mencegah penggerusan tanah.
“Normalisasi akan dilakukan, tetapi menunggu kondisi air surut karena saat ini debit masih besar,” ujarnya. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh